Haji Lane Street, Cerita Gang Kecil di Singapura

Hellooo… akhir tahun kamu mau menghabiskan uang di mana? Ups maksud saya, ke mana kamu pergi di holiday akhir tahun? Hehe Kalau t...

21 Oktober 2010

Haji Super Ekonomi


ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا

“Mengerjakan ibadah haji adalah kewajiban manusia karena Allah,

Yaitu bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana,” (QS. Al Imran: 97)

Haji sebagai salah satu bentuk macam peribadatan dalam Islam merupakan kolaborasi ibadah bentuk ucapan dan perbuatan baik yang badaniyah atau amaliyah, bagi yang mampu, mampu aspek fisik dan bathinnya. Di antara mampu fisik adalah berduit. Tanpa duit, orang belum bisa dikategorikan mampu haji. Bagi orang pribumi Mekkah – mungkin – berduit bukan masalah untuk ukuran mampu haji. Tapi bagi orang Indonesia bertinggal di bumi Nusantara, duit adalah komponen penting untuk dikategorikan mampu haji. Maka kalau kita orang miskin selamanya tidak bisa haji, sementara kita tetap miskin duit. Mungkin mimpi kali ye orang miskin Indonesia pergi haji, kecuali kalau ada rizki min haitsu la yahtasib, atau berhaji di alam mimpi di bawah bayang-bayang Ka’bah.

Dalam al Quran, Allah mewanti-wanti: “Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan Dia tidak menghendaki kesulitan bagi kamu,” (QS. Al Baqarah: 185). Pada ayat lain Allah pun menegaskan: “Sesungguhunya beserta kesukaran ada kemudahan,” (QS. Al Insyirah: 6). Kalau kita memahami firman tersebut, sepertinya orang miskin Indonesia masih punya kesempatan haji, meski toh masih tetap miskin duit.

Yang biasa dilakukan dalam haji diantaranya ihram, talbiyah, thawaf, sa’i, wuquf, jumrah, dan qurban, hingga haji itu dikatakan haji bahkan bertitel haji mabrur. Nah, kelengkapan haji itu bisa juga dilakukan orang miskin Indonesia. Dalam artian, ia bisa pergi haji meski yang dilakukan adalah haji substansi saja tanpa fisiknya ikut serta ke Makkah atau Madinah.

Itu yang dikatakan sebagai haji ala orang miskin Indonesia. Wahai orang miskin, janganlah berkecil hati, marilah kita berhaji dalam diri kita masing-masing.

Kita awali haji dengan IHRAM. Kita bertolak dari miqat 1 Syawal setelah melakukan perjalanan panjang sepanjang Ramadhan. Sebagaimana orang berihram dituntut memakai pakaian serba putih tanpa jahitan dan potongan, pada 1 Syawal kita mulai memutihkan – untuk kesekian kalinya – dengan saling memaafkan secara vertikal dan horizontal. Kita memperbaharui kembali fitrah kemanusiaan kita yang pernah kita ikrarkan dihadapan Tuhan (QS. Al A’raf: 172). Semua itu demi memperlancar apa yang kita lakukan ke depan untuk bisa memetik bintang harapan kita yang pas mantab dengan kehendak dan ridha Tuhan. Hal ini sama halnya ketika para jama’ah haji mengawali dengan hati dan niat tulus suci dengan harapan mencapai haji mabrur.

Penting juga dicatat, bahwa tradisi maaf-memaafkan atau salam-salaman atau halal bihalal pada musim idul fitri adalah salah satu buah kreatifitas ulama nusantara kita dahulu kala. Di negri lain tidak ada, atau pun ada setelah beradanya di nusantara.

Di sela-sela kita memulai ihram pada 1 Syawal, kita juga BERTALBIYAH (baca; bertakbir) mengagungkan asma Tuhan sebagai ikrar dan pernyataan bahwa kita telah siap, kita telah menanggalkan kehendak hawa nafsu, kita siap mematuhi segenap apa yang menjadi kehendak dan titah-Nya. Dengan dikumandangkan takbir berarti kita benar-benar telah siap untuk startkembali menjalani kehidupan yang islami dari segala aspeknya, dengan sumber-sumber hukum Islam jaminan mutu dan terpercaya. Jama’ah haji di Makkah pun bertalbiyah tanda mereka siap haji yang benar-benar haji legal sebagaimana diundangkan Islam.

Selesai kita start ihram dan tanpa henti bertalbiyah, kita akan memasuki babak-babak haji sesungguhnya, yang membutuhkan stamina ekstra secara jasmani dan rohani. Sebut saja THAWAF, seiring perputaran bumi – pasca ihram – kita mengelilingi roda perjalanan hidup dengan bentuk hal yang kita lakukan untuk mengisi hidup. Selama thawaf – sebagai hamba yang selalu rindu akan rahmat dan cinta-Nya – kita modifikasi mutu ibadah luar-dalam dengan kualitas yang lebih baik. Dan untuk menuju kualitas itu sungguh sangat berat, mengingat hawa nafsu dan musuh besar manusia selalu berusaha mencoreng-coreng kembali fitrah kita yang sudah putih jernih di awal ihram. Bisa dibayangkan kelelahan yang dirasakan jama’ah haji saat mengelilingi Ka’bah berdesak-desakan dengan beribu-ribu juta orang. Itu pun tidak satu kali putaran tapi tujuh kali putaran.

Kemudian untuk melengkapi thawaf, kita lanjutkan dengan SA’I. Bersa’i bolak-balik antara al Quran dan sunnah Nabi – sebagai dua sumber terpokok kitab undang-undang Islam – dengan harapan kita tidak salah kaprah, salah tingkah, atau bahkan tersesatkeblinger di tengah persimpangan jalan. Nah, dengan sa’i itulah – antara al Quran dan Hadits – kita selalu berharap dalam hidayah-Nya.

Pasca sa’i, jangan dulu merasa telah mendapat petunjuk jalan. Karena terkadang petunjuk itu tidak atau belum bisa dikatakan petunjuk meski dalam posisi benar. Kita perlu BERWUKUF untuk memperjelas petunjuk yang ada hingga benar-benar terang benderang, kinclong. Berwukuf, mencurahkan perhatian sejenak terhadap penafsiran ayat-ayat Tuhan dan sunnah-sunnah Nabi sebagai khazanah primer Islam. Lalu bertahap ke ijma’ dan qiyas serta sumber lainnya (mungkin) sebagai khazanah sekunder Islam. Wuquf itu kita lakukan dengan tetap berpedoman al-muhafadhah ‘ala al-qadim as-shaleh wa alakhdzu bi al-jadid al-ashlah. Sebagai penunjang wuquf, memerlukan perlengkapan-perlengkapan referensi para ahli agama agar kita dapat menemukan jalan Islam kaffah yang membawa misi kedamaian bagi umat manusia.

Selama kita melewati babak demi babak dalam ritual haji, selama itu pula kita ditempa menjadi muslim yang benar-benar muslim. Muslim yang memiliki benteng keimanan yang kokoh dan bisa menangkal segala hal yang tidak berpihak pada kebenaran. Kita lemparkan JUMRAH, melempar segala perilaku yang mengumbar hawa nafsu yang akan mengancam dan menghancurkan kedamaian kehidupan manusia, baik individu atau berjama’ah. Inilah bentuk permusuhan kita terhadap musuh besar yang berwatak ketidakbenaran, ketimpangan, ketidakadilan, kemarginalan, d.k.k.

Setelah kita benar-benar lulus melewati babak-babak haji tersebut, kita akan masuk tahap akhir, QURBAN atau KURBAN atau KORBAN, sebagai penutup. Dengan bekal yang cukup kita siap mengabdikan diri kepada Tuhan dan kehidupan untuk mengusung misi pembangunan perdamaian. Kita siap diri untuk berkorban apa saja demi kebenaran dan kebaikan agama dan kemanusiaan. Jama’ah haji pun melakukan penyembelahan qurban. Sampai titik ini, selesai sudah amalan haji. Kita tunggu buahnya di alam abadi setelah dunia, dengan selalu bergerak ke arah kebenaran dan kebaikan, bukan menunggu kosong blong bak bulan purnama bercahaya terang namun bengong.

Walau tetap ngarep, berhaji tidak harus menunggu lama sampai benar-benar terjadi berangkat ke Makkah. Cukuplah haji dalam diri kita masing-masing, di tanah air. Mungkin bisa jadi lebih mabrur dari pada hajinya orang yang berangkat ke tanah suci.

2 komentar:

  1. Kunjungan blogger,...aku juga ingin naik haji,...nice blog

    BalasHapus
  2. matur nuwun atas kunjungannya pak boed, blog anda good job... i like

    BalasHapus

Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak