Haji Lane Street, Cerita Gang Kecil di Singapura

Hellooo… akhir tahun kamu mau menghabiskan uang di mana? Ups maksud saya, ke mana kamu pergi di holiday akhir tahun? Hehe Kalau t...

21 Oktober 2010

Wong Kampung Ngater Wo Kaji

”Datang tak dijemput, pulang tak diantar”, slogan jailangkung ini tak berlaku bagi seorang kampung asal Nusantara, seorang tokoh ataupun wong alit, yang hendak melengkapkan rukun Islam, haji. Beragam fersi tradisi Nusantara mewarnai corak tradisi-budaya orang-orang kampung mengantarkan seorang calon penunai haji dari titik asal menuju satu titik pusat bersama, Ka’bah.

Diperkirakan tiga hari pra pemberangkatan dari titik asal calon penunai haji, di rumahnya, sepanjang hari hampir tak sepi dari kunjungan tetamu. Layaknya lebaran, saling meminta maaf pun terjadi, bendungan pun sesekali jebol oleh air mata haru di satu sisi dan sumringah di sisi lain. Mungkin memang ibadah yang satu ini butuh kesiapan fisik dan mental yang ekstra dengan berbagai kemungkinan. Beragam motivasi silaturahmi pun terus berdatangan kepada sang calon penunai haji, ”mungkin motivasinya selain pamitan, wada’an, berharap giliran dirinya yang diantar (haji) di tahun berikutnya,” tutur seorang pengantar calon penunai haji.

Tak terhitung orang-orang yang sama yang dijumpai kembali bersalaman/silaturahmi, kembali dan kembali berkali-kali bersalaman hingga menjelang bus pengantar calon penunai haji lenyap dari pandangan mata kepala.

Lihatlah mereka berbondong-bondong sepenuh hati mengantarkan para calon penunai haji, itulah kekuatan khas haji ala orang kampung Nusantara kah? Apa yang termuat dari nilai-nilai humanisme yang kental kampung itu kah? Anda pun pasti bisa merasakannya. Sungguh! Tak memandang siapa calon penunai hajinya, tak ada beda seorang tokoh atau pun wong alit (orang kecil), fenomenanya sama, itulah pancaran humanisme orang-orang kampung di Nusantara.

Bisa dipastikan nuansa pemberangkatan ini akan kembali terulang ketika para jama’ah haji kembali ke titik mula. Indahnya Islam di Nusantara. Mungkin di sini letak bobot kekuatan haji itu sendiri, juga mari kita melapangkan diri membaca nilai-nilai humanis yang terkandung dalam pelepasan dan penyambutan mereka.

”Datang diundang, berangkat diantar, pulang dijemput, asyiknya rame-rame…,” itu mungkin slogan yang tepat buat fenomena jama’ah haji asli Nusantara.

Tradisi singkat pelepasan haji ala gunung jati Cirebon (mungkin juga di tempat lain di Nusantara) :

  1. Sambutan atas nama calon penunai haji, berisi permohonan pamit, permohonan maaf atas segala langkuh lampah, permohonan doa kepada seluruh masyarakat dalam kelancaran ibadah haji.
  2. Kumandang adzan dan iqomah. Mengingatkan saya tradisi ketika seorang anak manusia baru terlahir di muka bumi dan saat anak manusia itu pamit dari alam dunia.
  3. Pemberangkatan calon penunai haji dan masyarakat tanpa diundang mengiringi pelepasan, bersalaman wada’an, dan tetap bersama calon penunai haji sampai benar-benar sang calon itu berangkat dari titik asal.

BERHAJI, ANDA ANTRIAN KEBERAPA KAH?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak