Haji Lane Street, Cerita Gang Kecil di Singapura

Hellooo… akhir tahun kamu mau menghabiskan uang di mana? Ups maksud saya, ke mana kamu pergi di holiday akhir tahun? Hehe Kalau t...

27 Juli 2012

Dua Tahun Mengejar Taraweh (1)


Bayangkan Ramadhan adalah seorang kekasih. Seorang kekasih yang setahun lamanya kita tak jumpai, walau hanya alakadarnya nongol di SMS atau pun BBM. Seorang kekasih yang kita rindukan, bersamanya berdua bercengkrama, mengisi hari-hari indah, dan keindahan lainnya. Saat berjumpa dengannya, sebulan terasa sehari, hingga kita merasa selalu tak mau singkat berjumpa dengannya. Siapa seorang kekasih itu? Bayangkan saja.

Taraweh, aktifitas yang paling dirindukan bersama Ramadhan itu. Satu-satunya aktifitas yang tak bisa dilakukan bila tak jumpa dengan Ramadhan. Dan selama dua tahun itu, ia terus mengejar taraweh.

Semenjak memasuki dunia kerja di kawasan Jakarta, setiap kali bertemu Ramadhan, saking rindunya ia terus mengejar taraweh. Setiap kali ia kejar, kesia-siaan yang ia dapat. Dengan jam kerja yang membelenggunya, ia hanya mampu bekejaran dengan kemacetan Jakarta, kelamnya udara malam knalpot kendaraan, dan bisunya trotoar jalanan.

Selama dua tahun itu, ia taraweh tak seperti biasa, terasa tak pernah jumpa dengan seorang kekasih. Hanya dua hari ia mampu memuaskan hasratnya untuk taraweh, itu pun karena tak terbelenggu jam kerja. Sisa dari dua hari ia tak mampu berkutik. Ia hanya mampu pada kisaran di angka 79 ketika taraweh, kebanyakan orang mampu menikmati taraweh di angka 23 dan 11.

Di Indonesia, bagi kebanyakan orang yang menikmati taraweh di angka 23, mereka biasanya bisa dengan lincah mengarungi gaya formasi tiki-taka Barcalona dan Spanyol, suguhan umpan-umpan pendek sepakbola indah. Inilah formasi taraweh 2 kali salam plus satu kali salam dengan suguhan indah At-takatsur – Al-Masad/Al-lahab, atau Al-Lail – Al-Masad/Al-lahab. Dan jika berada di sebagian stadiun pesantren, mereka bisa menikmati satu kali pertemuan taraweh satu juz al-Quran.

Sementara taraweh di angka 11, gaya formasi tiki-taka menjadi pilihan kebanyakan untuk suguhan taraweh yang indah. Sebagian lagi nyaman dengan umpan-umpan panjang ala kick & rush liga Inggris, formasi 4-4-2-1 kadang 4-4-3. Time out antara Isya-Taraweh menjadi yang khas dari tipe taraweh ini, kultum (kuliah tujuh menit).

Sedangkan ia, selama dua tahun masa pengejaran, hanya alakadarnya taraweh di angka 79. Bilangan angka di luar kebiasaan formasi taraweh. Apakah anda pernah mendengar suatu riwayat taraweh di angka 79?.... Betul, ia harus ikhlas taraweh berimamkan sopir dan berbilalkan kernet kopaja 79 trayek Lebak Bulus – Blok M. Untuk penghibur, dalam kesendirian, ia taraweh dengan format seperti yang digariskan.

Selama taraweh di angka 79, ia masih beruntung, jempolnya produktif sekali (baca; satu kali) untuk menulis apa yang ia nikmati selama bertemu kekasih, Ramadhan. Sekedar ungkapan syukur, jempolnya hanya bisa bergumam:

Aku yang merasakan Ramadhan
Merasakan kemerdekaan
Aku yang merasakan Ramadhan
Merasakan kedamaian

Alhamdulillah…

Adalah Alhamdulillah aku yang dalam kesendirian

Aku yang merasakan kehadiran-Nya
Dalam kesendirianku adalah dua

Yang merasakan kehadiran-Nya
Adalah ridho-Nya

Kau kah, dia kah, kalian kah, itu kah, ini kah, mereka kah, aku kah…

Lillahi ta'ala...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak