Bayangkan Ramadhan
adalah seorang kekasih. Seorang kekasih yang setahun lamanya kita tak jumpai,
walau hanya alakadarnya nongol di SMS atau pun BBM. Seorang kekasih yang kita
rindukan, bersamanya berdua bercengkrama, mengisi hari-hari indah, dan
keindahan lainnya. Saat berjumpa dengannya, sebulan terasa sehari, hingga kita
merasa selalu tak mau singkat berjumpa dengannya. Siapa seorang kekasih itu?
Bayangkan saja.
Taraweh, aktifitas
yang paling dirindukan bersama Ramadhan itu. Satu-satunya aktifitas yang tak
bisa dilakukan bila tak jumpa dengan Ramadhan. Dan selama dua tahun itu, ia
terus mengejar taraweh.
Semenjak memasuki
dunia kerja di kawasan Jakarta, setiap kali bertemu Ramadhan, saking rindunya
ia terus mengejar taraweh. Setiap kali ia kejar, kesia-siaan yang ia dapat.
Dengan jam kerja yang membelenggunya, ia hanya mampu bekejaran dengan kemacetan
Jakarta, kelamnya udara malam knalpot kendaraan, dan bisunya trotoar jalanan.
Selama dua tahun itu,
ia taraweh tak seperti biasa, terasa tak pernah jumpa dengan seorang kekasih.
Hanya dua hari ia mampu memuaskan hasratnya untuk taraweh, itu pun karena tak
terbelenggu jam kerja. Sisa dari dua hari ia tak mampu berkutik. Ia hanya mampu
pada kisaran di angka 79 ketika taraweh, kebanyakan orang mampu menikmati
taraweh di angka 23 dan 11.
Di Indonesia, bagi
kebanyakan orang yang menikmati taraweh di angka 23, mereka biasanya bisa
dengan lincah mengarungi gaya formasi tiki-taka Barcalona dan Spanyol, suguhan
umpan-umpan pendek sepakbola indah. Inilah formasi taraweh 2 kali salam plus
satu kali salam dengan suguhan indah At-takatsur – Al-Masad/Al-lahab, atau
Al-Lail – Al-Masad/Al-lahab. Dan jika berada di sebagian stadiun pesantren,
mereka bisa menikmati satu kali pertemuan taraweh satu juz al-Quran.
Sementara taraweh di
angka 11, gaya formasi tiki-taka menjadi pilihan kebanyakan untuk suguhan
taraweh yang indah. Sebagian lagi nyaman dengan umpan-umpan panjang ala kick
& rush liga Inggris, formasi 4-4-2-1 kadang 4-4-3. Time out antara
Isya-Taraweh menjadi yang khas dari tipe taraweh ini, kultum (kuliah tujuh
menit).
Sedangkan ia, selama
dua tahun masa pengejaran, hanya alakadarnya taraweh di angka 79. Bilangan
angka di luar kebiasaan formasi taraweh. Apakah anda pernah mendengar suatu
riwayat taraweh di angka 79?.... Betul, ia harus ikhlas taraweh berimamkan
sopir dan berbilalkan kernet kopaja 79 trayek Lebak Bulus – Blok M. Untuk
penghibur, dalam kesendirian, ia taraweh dengan format seperti yang digariskan.
Selama taraweh di
angka 79, ia masih beruntung, jempolnya produktif sekali (baca; satu kali)
untuk menulis apa yang ia nikmati selama bertemu kekasih, Ramadhan. Sekedar
ungkapan syukur, jempolnya hanya bisa bergumam:
Aku yang merasakan
Ramadhan
Merasakan kemerdekaan
Aku yang merasakan
Ramadhan
Merasakan kedamaian
Alhamdulillah…
Adalah Alhamdulillah
aku yang dalam kesendirian
Aku yang merasakan
kehadiran-Nya
Dalam kesendirianku
adalah dua
Yang merasakan
kehadiran-Nya
Adalah ridho-Nya
Kau kah, dia kah,
kalian kah, itu kah, ini kah, mereka kah, aku kah…
Lillahi ta'ala...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak