Haji Lane Street, Cerita Gang Kecil di Singapura

Hellooo… akhir tahun kamu mau menghabiskan uang di mana? Ups maksud saya, ke mana kamu pergi di holiday akhir tahun? Hehe Kalau t...

6 Mei 2010

"Warna-Warni Musik" di Jakarta

"Dengar! Bisakah kau mendengarnya? Suara musik. Aku bisa mendengarnya di mana-mana. Dalam hembusan angin... di udara... dalam cahaya..., musik ada di sekitar kita. Yang harus kau lakukan adalah membuka dirimu... Yang perlu kau lakukan adalah mendengar...,"

Itulah suara prolog Evan Taylor (August Rush) pada permulaan film August Rush, bocah berumur 10 tahun. Film yang bercerita tentang seorang anak yang dikaruniai bakat musik yang terwarisi dari kedua orang tuanya. Di tengah keramaian, ia seolah hanyut dalam sunyinya kesendirian, merasakan segala bunyi yang ada di sekeliling, dan menikmatinya menjadi paduan bunyi yang apik tenan, sunggug ranum didengar telinga.

"Musik ada di sekitar kita. Yang perlu kau lakukan... just listen." Suara lirih August Rush di ujung konser akbar perdananya, sekaligus menjadi ending film.

Seperti August Rush merasakan alunan bunyi-bunyi di tengah keramaian, di Jakarta dan sekitarnya, di segala sudut jalan, tiada hari tanpa terdengar alunan musik, mulai dari musik jalanan, sampai musik tengah malam yang menghentak di setiap sudut clubing. Jakarta sedetik pun tak pernah lekang dari bunyi-bunyian musik, namun nadanya agak berbeda dengan apa yang ditampilkan komposer muda dalam film tersebut, August Rush.

Di salah satu sudut Jakarta, ada banyak aliran musik sendu, seperti alunan musik drap langkah-langkah sepatu Satpol PP berkolaborasi dengan suara desiran angin lemparan batu, dentuman bom molotov, roda troli tempat tidur rumah sakit, hingga tetesan-tetesan inpus. Ada pula musik pilu raungan sirine mobil pemadam dipadu dengan raungan tangisan ratusan wong cilik yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda, efek tabung gas yang meledak dan terjadi kebakaran.

Bisa anda bayangkan bila alunan musik itu dileburkan dalam sidang terbuka DPR RI ketika sang Ketua memainkan nada palu tiga ketukan, tanpa tengok kanan-kiri, hingga tiba-tiba lirik lagu langsung beranjak ke reff dan bermunculan suara-suara vokalis yang tak padu. Apa yang terbayang kah?

Sungguh Jakarta full musik. Namun lebih lanjut, saya lebih suka mengurai musik ciri khas Ibu kota, Jakarta, yang paling sering akrab di telinga, musik jalanan. Bagi para pelanggan jasa angkutan umum kota Jakarta (minus bus trans Jakarta) dan para pelanggan penikmat warung makanan di pinggir-pinggir jalan, atau di emperan-emperan tembok pembatas daerah terotirial kampus. Seperti daerah sepanjang jalanan pesanggrahan, samping kampus di jalan Ir. H. Juanda, Ciputat, musik jalanan sudah menjadi menu harian tambahan yang tak bisa dihindarkan oleh telinga.

Ada bermacam-macam peralatan musik yang diandalkan oleh para pelaku musik jalanan, tentunya tergantung keahlian dan kemampuan untuk memiliki peralatan tersebut. Dari yang terlihat ada gitar, gitar kecil, biola, genjring, kecrek tutup botol, bola tenis meja berisi beras, botol merica berisi beras, sampai pada hanya tepukan tangan menjadi pilihan musik pengiringnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak