Haji Lane Street, Cerita Gang Kecil di Singapura

Hellooo… akhir tahun kamu mau menghabiskan uang di mana? Ups maksud saya, ke mana kamu pergi di holiday akhir tahun? Hehe Kalau t...

22 Oktober 2010

Tersenyum, Ketika Aku Mengingatmu

Bermula ketika terkantuk-kantuk samar menyimak khatib berkhutbah jumat, alam bawah sadar ini malah mengingatmu. Sungguh tak nyambung dengan apa yang ku dengar samar dari suara khutbah khatib. Namun yang kurasakan adalah kelapangan, kelegaan, dan kebahagiaan, saat ku mengingatmu.


Khutbah sang khatib di beberapa detik aku cuekin, hanya untuk mengingatmu. Bibir alam bawah sadarku pun tersenyum menikmati kenangan dan bayangan ketika mengingatmu. Dengan mengingatmu, aku terasa memasuki tiga ruangan yang berbeda. Suatu ruang yang sama halnya ketika aku belajar tasrifan dalam seruang tajug dulu; ada zaman madhi, zaman haal, dan zaman mustaqbal.



Ketika aku mengingatmu, membayangkan hal-hal yang buruk berbau kejelekan dan dosa, alam bawah sadarku pun kusut namun tetap ingin tersenyum. Ingin rasanya kembali ke zaman madhi, kembali mengi’rab langkah-langkah jalan setapakku dengan baik dan benar agar gemilang di zaman mustaqbal, meraup kebahagiaan.


Ketika aku mengingatmu, membayangkan hal-hal yang baik, alam bawah sadarku was-was, harap-harap cemas. Ingin rasanya kebaikan yang telah ku perbuat terhindar dari kuman-kuman yang berjargon pembusukan, yang bisa mengkaratkan kebaikan itu, agar di zaman haal dan zaman mustaqbal aku pun tidak terseret menjadi karatan.


Ketika aku mengingatmu, tentu ini menjadi rahasia kita berdua, antara aku dan kau, plus Tuhan. Tidak seperti terjadinya pembocoran rencana tuntutan (rentut) dalam kasus terdakwa Gayus Tambunan.


Dan ketika aku mengingatmu, di saat deti-detik terakhir peralihan khatib jumat menjelma imam shalat jumat, aku ingin tetap tersenyum untukmu.


Aku mengingatmu, aku; Dhamiirun mu’fasilun mabniyyun ‘alaa as-sukuun fii mahalli al-raf’i wahua mubtada’. Mengingatmu; fi’lun mudhaari’un mabniyyun ‘alaa as-sukuun littishaalihi bi dhamiirin muttasilin wa faa’iluhu dhamiirun mustatatrun taqdiruhu ‘aku’. Mu; dhamiirun muttasilun mabniyyun ‘alaa al-fathi fi mahaali nashbi fahua maf’uulun bih, wa jumlatu ‘mengingatmu’ jumlatun fi’liyyatun la mahalla lahaa min al-i’raab khabar al-mubtada’. MU; RAAJI’UN ILAA AL-MAUT.


apa yang anda sangka?


Pinggiran 22 Oktober 2010

3 komentar:

  1. aku ora ngerti bahasae,,, *huhuhuhuhu,,
    bahasa arab,, mustaqbal?????
    Dhamiirun mu’fasilun mabniyyun ‘alaa as-sukuun fii mahalli al-raf’i wahua mubtada’. Mengingatmu; fi’lun mudhaari’un mabniyyun ‘alaa as-sukuun littishaalihi bi dhamiirin muttasilin wa faa’iluhu dhamiirun mustatatrun taqdiruhu ‘aku’. Mu; dhamiirun muttasilun mabniyyun ‘alaa al-fathi fi mahaali nashbi fahua maf’uulun bih, wa jumlatu ‘mengingatmu’ jumlatun fi’liyyatun la mahalla lahaa min al-i’raab khabar al-mubtada’. MU; RAAJI’UN ILAA AL-MAUT.
    hehehehhe,, :)

    BalasHapus
  2. wah ada tamu....
    monggo, ngaji ngi'rob bae meng mbah google jeh..., hahaa

    BalasHapus
  3. iyah iki,, ana tamu wong adoh,,,,hahahaha
    ngaji ng'rob iku ngaji apa yah tadz??? tentang apa???

    BalasHapus

Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak