Haji Lane Street, Cerita Gang Kecil di Singapura

Hellooo… akhir tahun kamu mau menghabiskan uang di mana? Ups maksud saya, ke mana kamu pergi di holiday akhir tahun? Hehe Kalau t...

18 November 2010

ONE ISTIQLAL

ONE ISTIQLAL

One Love In One Day To One God

االلهم اغفر لنا… اللهم اغفر لنا يا غفار يا غفار… اللهم افتح لنا أبواب الرحمة…

اللهم افتح لنا أبواب البركة، أبواب النعمة، أبواب القوة… أبواب العافية،

وأبواب الخيرات وأبواب الخيرات وأبواب الخيرات…

03:00 am pasti pas, nada dering Cak Nun itu menyadarkan seseorang dari alam atas bantal batik kembang-kembang beralas ‘hijau daun’. Sebuah awal bermula dalam rangkaian sunnah Nabi pra ritual shalat Id.

03.30 am, kaki mulai terayun untuk menuju satu titik ke-istiqlal-an. Sejenak menanti, segera berkendara moda transportasi umum ibu kota pada umumnya. Di sepanjang jalan, melarutkan obrolan bersama sang sopir yang baru keluar narik pukul 04:00 pm.

Kebetulan hanya berdua dalam satu kendaraan, satu sopir, satu penumpang. Lisan pun mengalirkan obrolan tanpa batas, seolah sudah lama bertemu. Seru juga, mulai dari kisah awal keluarganya, ia menikah dengan seorang janda kembang sekitar dua bulan, sementara dia sendiri bukanlah duda waktu itu. Ia asli Betawi, sementara istrinya asli Semarang. “Nah loh kok bisa ketemu?” tanyaku. Ia pun sedikit berkisah, dulu ia seorang supir pribadi dan istrinya seorang pembantu rumah tangga, hanya berjarak dua-tiga rumah antara rumah majikan masing-masing. Sampai ia pun angkat bicara soal poligami, “Meskipun misalnya saya ‘mampu’, satu saja pun nggak akan habis.” Saya hanya sedikit membubuhi, “Iya Pak, kalau mau lebih dari satu harus bener-bener nyontoh Kanjeng Nabi kan Pak…?” Ia anggukkan kepala. Bisa diterjemahkan yang dimaksud dari anggukannya?

Sampai pula ia bicara soal kemacetan dan banjirnya kota Jakarta, “Udah seh, presiden dari luar negeri nggak usah dateng lagi ke Jakarta, bikin macet saja.” Ia juga sedikit berkisah komentar tentang ketokohan Gus Dur, ia mengaguminya namun sayang kadang orang tak memahaminya. Larut dalam obrolan, perjalanan sungguh terasa singkat, tak lebih dari setengah jam bahkan kurang.

Pada suatu nama jalan, setelah baru saja melewati sebuah pengkolan balik arah, beberapa puluh meter sebelum istiqal, kembali lisannya sedikit berkisah. Ia kasih tunjuk di pinggiran jalan, terlihat ada dua-tiga yang biasa melambai-lambaikan tangan saat setiap ada mobil lewat, di hari selarut ini menjelang pagi. “Saya nggak habis pikir kenapa mereka mau melakukan hal seperti itu,” cetusnya. “Ketika ter-razia alasan yang dikedepankan karena alasan ekonomi, kenapa ya bangsa ini,” tambahnya.

Hanyalah sedikit menuangkan terjemahan bebas dari obrolan antara seorang penumpang dan seorang sopir. Tercipta alur obrolan sependek tersebut.

Adzan shubuh berkumandang, pas mantap sampai depan gerbang pintu utama Istiqlal. Sesubuh ini di momen Idul Adha, jama’ah shubuh Istiqlal sedikit banyak memenuhi shaf-shaf di lantai dua. Tepat pukul 05:30 am, shaf-shaf istiqlal lantai dua tersebut sudah dipenuhi jama’aha shalat id.

Sepanjang waktu sebelum pukul 06:42 am sang protokol memulai protekolernya, jama’ah dilarutkan dengan bertakbir tiada henti, beberapa terlihat menitikkan air mata. Hingga sang protokol mengumumkan bahwa shalat Id akan diikuti oleh bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyo, para menteri kabinet Indonesia bersatu II, gubernur DKI Jakarta. Imam shalat Id adalah bapak Husni Ismail, salah satu imam masjid Istiqlal. Dan selaku khatib Prof. (Emeritus) Dr. H. Halide. Singkat pula dia mengumumkan dana yang terkumpul untuk musibah bencana alam di Mentawai, Wasior, dan Yogyakarta, sebesar Rp. 92.488.000.

Tak lupa ia juga mengumumkan beberapa himbauan untuk jama’ah selama ritual masih berlangsung di masjid. Di antaranya menon-aktifkan hp, wartawan foto diberi kesempatan waktu 2 menit ketika SBY tiba di tempat. Satu hal yang baru terdengar telinga bahwa jama’ah perempuan diimbau untuk tidak menanggalkan mukenah hingga khutbah selesai, mungkin bisa dimengerti terjemahan bebas mukenah. Ia menutup dengan salam pukul 06.07 am.

06:59 am, rombongan SBY tiba di masjid. Beberapa menit tahiyyat masjid, pukul 07:04 am shalat Id bermula dan salam kedua pukul 07:16:45 am.

Sang khatib memulai khutbah pukul 07:17 am. Khatib adalah Prof. (Emeritus) Dr. H. Halide, beliau adalah salah satu guru besar Unhas. Dalam kesempatan khutbah id ini beliau mengambil tema “Dengan Semangat Ibadah Haji dan Qurban, Kita Bina Persatuan Bangsa”. Tema itu terbaca pada sampul buku khutbah yang dibagikan kepada jama’ah.

Dalam khutbahnya beliau menyebutkan bahwa ada dua tokoh yang menjadi tokoh sentral momen Idul Adha. Pertama, Nabi Ibrahim yang telah memupuk ketauhidan mulai dari perenungan agama kaumnya yang menyembah berhala, bintang, bulan, dan matahari. Kedua, Nabi Muhammad, yang melanjutkan ajaran Ibrahim, kebulatan tauhid kepada Allah dan tetap pada jalan yang lurus.

Belia mengatakan, pada momen Idul Adha penyembelehan hewan qurban adalah tradisi yang tetap dilakukan hingga sekarang. Qurban, ada yang diterima dan ada yang ditolak. Sebagaimana dikisahkan yang terjadi pada Habil dan Kabil, hingga kabil membunuh Habil tanpa alasan yang benar. Allah mengatakan dalam Quran bahwa barangsiapa yang membunuh seseorang tanpa alasan yang benar maka sesungguhnya ia telah membunuh seluruh umat manusia, dan barangsiapa ‘menghidupkan’ sesorang maka sesungguhnya ia telah menghidupkan seluruh umat manusia.

Dalam perayaan dua hari raya, Islam juga tidak mengajarkan perayaan kemenangan dengan hiruk pikuk. Tapi islam mengajarkan untuk mentrasnformasikannya dalam bentuk ibadah yang dilandasi dua pilar, keimanan dan keikhlasan.

Bentuk ibadah ini seyogyanya mengarah pada silaturahmi untuk kesatuan umat yang rahmat. Beliau menegaskan, membangun rahmat itu dengan budipekerti dan akhlak yang luhur. Pada saat Idul Fitri kita membangun silaturahmi dengan membagikan sodaqah, khususnya zakat fitrah. Momen Idul Adha, silaturahmi disempurnakan dengan membagikan daging hewan qurban.

Di akhir khutbahnya, beliau menekankan bahwa seorang pemimpin itu harus bisa ngayomi. Apa yang ia katakan dan rakyat mendengarnya, maka nyatakan dengan perbuatan yang nyata. Pukul 07:41 am beliau mengakhiri khutbah.

Sebuah perjalanan terjadi pada tanggal 17 November 2010, bertepatan dengan perolehan 17 sapi dan 388 domba Istiqlal, dalam one love satu cinta kasih sayang. In one day di hari momen Idul Adha sebuah momen kegigihan keluarga Ibrahim namun sayang dalam khutbah tidak tersurat terkisahkan perjuangan Siti Hajar. To one God untuk meraih keridhaan Tuhan Yang Maha Esa. Walau perjalanan penuh nano-nano, semoga kita dikembalikan tersuci untuk melampah pada jalan yang mustaqiem yang menjadi pilihan-Nya. Amien…. semoga…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak