Sandiwara Panggung
Dalang :
“Seperti judul sinetron di sebuah stasiun televisi nasional, maka kisah si Cetok dan kawan-kawannya, dan sang gadis yang menjadi impian si Cetok pun berlanjut.
Sang gadis itu bernama Dlo’ifun, diambil dari kata Dlo’if (bahasa arab) yang berarti lemah, entah kenapa orang tuanya memberi nama tersebut pada anak perempuannya. Tapi bisa jadi nama itu berpengaruh pada sang anak yang punya sifat cengeng dari bayi hingga dewasa.
Dlo’ifun punya nick name Do’i,’ hmmm...nama yang asik buat dipanggil ‘.”
kali ini diperankan oleh :
si Cetok : cowok sok keren yang sudah dikenal di awal cerita
si Do'i : cewek gebetan si Cetok, yang cengeng dan lemah
si Pepen : teman kerja si Do'i
si Ben : cowok sok pinter yang pernah menjadi pujaan si Do'i
Setting
Si Do’i (panggilan Dloifun) berjalan bersama kawannya yang berjenis kelamin laki-laki. Di seberang jalan , agak jauh dari tempat si Do’i, si Cetok dan si Kemat berdiri seperti menunggu sesuatu.
Si Do’i : “ Duh...dimana sich tempatnya Pen? “
Si Pepen : “ Nggak tahu...alamatnya sich di sekitar sini, tapi dimana toko roti kesukaan bos itu ?“
Si Do’i : “mana aku ditunggu sama temenku lagi ...’
Si Pepen : “ Bos juga bakal sewot kalau kita datang terlambat atau nggak bawa roti favoritnya itu! “
Si Pepen : (celingukan sambil mondar mandir mencari sebuah toko roti)
“eh...Do’i, lihat, toko rotinya di samping boutique itu...”
Si Pepen menarik tangan si Do’i dan berjalan cepat menuju toko roti yang ada di sebelah boutique.
Di seberang jalan, di bawah pohon rindang, hati si Cetok bagai di sambar petir, hancur,...
Musik : “hancur...hancur...hancur...hatiku....3X...hatiku hancur...” song by Olga Saputra
*****
Malam harinya 19.30 setelah shalat isya, bunyi reff lagu Sebelum Cahaya mengiang di telinga kanan si Do’i. Nada ring back tone si Cetok.
Si Do’i : “ kok nggak diangkat ya... coba lagi dech “
(“ingatkah engkau kepada ...”)
Si Cetok : “ Hallo...”
Si Do’i : “ Hallo.., bang, katanya mau jemput, kok nggak ada ? “
Si Cetok : “ oh..abang lupa...ada proyek yang harus diselesaikan, jadi nggak bisa jemput. Maaf yah...sekarang juga abang sibuk....daaah..” (
Si Do’i : “ ya sudah, maaf juga sudah ganggu. Daaah...”
Si Do’i termenung....di seberang
Musik : Denting by Melly Goeslow
Satu bulan lamanya tak ada lagi jalan bersama, tak ada lagi canda bersama di telepon, si Cetok dan si Do’i lost contact...
*****
Kemudian si Do’i mendengar bahwa si Cetok patah hati karena si Do’i telah memilih laki-laki lain selain si Cetok... dan si Do’i pun sedih karena sebenarnya laki-laki yang dilihat si Cetok adalah teman kerjanya, yang walaupun si Pepen itu memang punya rasa suka ke si Do’i tapi tidak dengan si Do’i. Buat si Do’i dari sekian banyak laki-laki yang datang kepadanya si Cetok lah yang selalu Do’i rindukan dan istimewa.
(Flash back)
Tahun 3002, perguruan Kawah Chondrodimuko di Negeri Poerwo, di sebuah taman indah
Si Ben :” Do’i, aku sungguh tak bermaksud melukaimu,,aku tak mau melihat mu sedih...”
Si Do’i : (tersenyum miris)
Si Ben: (terdiam sejenak)”Jujur Do’i,,aku bingung merumuskan hubungan kita....”
Si Do’i : (memotong perkataan si Ben)” nggak perlu dirumuskan, kalau kamu memang tidak mau katakan saja tidak, sebuah hubungan, baik itu pertemanan atau percintaan bukan matematika atau ilmu fisika yang perlu dirumuskan dan dicari penyelesaiannya, maka berakhir dengan sebuah sama dengan yang bisa salah juga bisa benar hasilnya, tapi hubungan itu adalah sebuah chemistry. Sebuah proses yang dapat membuat dua unsur atau lebih bersatu membentuk persenyawaan, berikatan karena adanya kecocokan.”
Si Ben : “aku memang menyukaimu, tapi sebagai sahabat,,, kamu punya tanggal lahir yang sama dengan adikku..” (
si Ben dan si Do’i terdiam untuk beberapa detik, menahan ledakan hati yang begitu menyesakkan dada, si Do’i ingin sekali menangis, wajahnya merah...dan si Ben melihat itu dengan penyesalan.
Si Ben : (Dalam hati) “ Do’i...aku cinta kamu...dulu, sebelum ada perempuan lain..,”
si Ben : “ Sungguh indah pertemanan kita Do’i, empat tahun lamanya berteman penuh ilmu dan tanpa perseteruan. Kamu adalah sahabat terbaikku, dan inspirasiku selain buku-buku favoritku. Dan kuharap kaupun bisa menjaga makna persahabatan kita, hakikat persahabatan sejati, yang makin kabur dalam arus latah budaya pop masa kini,,. “
si Do’i : “ Maksudmu aku ini ke-GR-an dan salah sangka dengan semua perhatianmu, dan aku cuma pengen ikut-ikutan tren sekarang yang saling suka dengan teman sendiri begitu ?”
si Ben : ”Do’i…aku minta maaf, jangan sedih, jangan menangis, aku menyesal sekali,…”
si Do’i : (memotong perkataan Ben) “Terimakasih...Ben..kau juga teman terbaik aku” (dengan mata berkaca-kaca).
Musik : Pergilah Kau by Sherina
*****
Tahun 3005 Di sebuah kamar cewek,
Si Do’i Menangis, meratapi semua yang telah terjadi padanya, tentang cerita-cerita percintaannya. Pengalamannya dengan si Ben membuat dia selalu ingat bahwa kemesraan laki-laki dan perempuan belum tentu sebuah hubungan cinta, tanpa ada pernyataan, walaupun cukup sekali. Si Do’i pernah berharap begitu banyak kepada si Ben karena kelembutan Ben, si Do’i pernah ke-GR-an begitu besar karena perhatian Ben, tapi semuanya membuat si Do’i luka pada akhirnya. Si Ben mengatakan bukan cinta, tapi teman. Parahnya lagi dua teman baiknya pun mengalami kejadian yang sama dengan Do’i. Itulah pelajaran yang cukup berkesan buat Do’i.
Dalang : “Sebuah pelajaran diulang terus sampai anda menguasainya, itulah bunyi aturan ke-4 dari buku sepuluh aturan hidup milik Chérie Carter – Scott Ph.D. Dan si Do’i pun harus mengulang pelajaran cintanya saat bertemu dengan si Cetok, ,,hubungan pertemanan yang berubah menjadi rasa cinta. Tapi hubungan mereka juga kandas karena kesalahpahaman. Suatu hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi buat orang-orang dewasa seperti si Cetok dan si Do’i. Si Do’i kembali menyesal dan meratapi semua yang telah terjadi.”
Si Do’i duduk di depan meja sudut kamarnya
Si Do’i : “ Mengapa si Cetok tidak berterus terang padaku, mengapa si Cetok beranggapan bahwa semua cinta tak perlu dikatakan, mengapa aku ternggelam pada traumaku bersama si Ben,,,bodoh,bodoh,bodoh….! (menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, kemudian membukanya dengan sapuan ke bagian kepala)
”Aku hanya tidak mau Cetok membenciku karena aku ke-GR-an, aku hanya tak mau lagi sakit hati, aku nggak sanggup mendengar kalau aku terlalu terlena dengan budaya pop masa kini , aku takut dia pergi jika tahu kalau aku mencintainya, bagaiman kalau dia juga salah kira tentang aku seperti si Ben, yang kini entah dimana. sekarang si Cetok pasti sudah sakit hati, dia pasti beranggapan bahwa aku perempuan yang tidak berperasaan, telah mengacuhkan perasaannya. Dan aku … aku akan kembali terpuruk dalam hari-hariku yang sepi, kehilangan kembali cahayaku, ,,,ooooh…Cetok, maafkan aku, bisakah kau kembali padaku, bersama menyusun kembali asa yang patah karena gelombang dan bersama-sama menjaganya hingga badai takkan mampu menenggelamkannya”
Si Do’i menangis, sifat lemahnya tak bisa menerima kenyataan yang selalu berulang dan berulang kali membuat hatinya sakit dan menangis adalah satu-satunya cara menikmati rasa sakit itu. Dua hal yang masih dia punya dan membuatnya merasa ringan manjalani kenyataan adalah Tuhan dan keluarganya.
Dalang : “ Si Do’i kembali dalam ratapannya tentang cinta, karena kesalahpahaman, karena trauma yang dalam membuatnya kembali dalam lubang yang sama, kehilangan cinta.” “Tidak ada kesalahan, tidak ada kebetulan, semua peristiwa adalah berkah yang diberikan kepada kita agar kita bisa belajar darinya (Elisabeth KÜbler – Ross)”
Penutup
Hanya si Do’i berdiri di tengah panggung
Si Do’i : “ Ketika para wanita terjebak dalam persahabatan bersama laki-laki, kemudian sang wanita terdampar dalam pulau ‘cinta tak berbalas’ terhadap sahabatnya dan kerentanan hati wanita membuat mereka terpuruk dalam rasa sakit, malu dan minder”
(Si Do’i menekuk tubuhnya sambil menundukkan kepala yang tertutup kedua telapak tangan)
“Aku punya wajah yang sangat buruk, aku bosan, doa telah membebaskanku. Bagaimana wajahku yang buruk ini dapat indah tanpa wajahmu yang tampan karena kekasihku ? Tanpa kehadiranmu aku seperti musim dingin, orang terus tersiksa olehku; bersama denganmu aku menyerupai kelopak mawar, wajahku dapat berubah menjadi wajah musim semi” (Jalaluddin Rumi : Diwan Syamsi Tabriz)
Penggores: Tanpa Nama
kisah yang tragis , tapi banyak terjadi. untuk Dlo'i, kalo nggak si Cetok, nggak si Ben, gimana kalo si_Must (baca: si mas)...margarin dapur alias bikin makanan enak dan makan yang banyak, karena "perut kenyang, hati senang" :)... peace..V
BalasHapus