Sandiwara Panggung
Dalang :
“Akhir bulan tahun 3005, al kisah seorang pemuda sok tampan bila terlihat dari jarak 10 km, sedang terbuai akan satu kata “cinta”. Entah kepada siapa satu kata itu ia alamatkan. Namun entah pula kerana prangko yang salah beli atau salah tempel atau entah bagaimana. Ia akhirnya..., akh... akupun tak sanggup merangkai gerbong kata. Bukan aku buta akan kata-kata, tapi... yah kita saksikan saja apa yang akan kita lihat di depan mata. ...Benar kata aktor film Sahrul Khan: “Ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata tapi harus kita rasakan.” Next... buka telinga, buka mata kepala, buka mata hati, buka belenggu, bersama aku, dan aku-aku yang lain dalam persembahan:
“CINTAKU UNTUK SIAPA?”
Cerita sinetron film ini atau entah apa lah anda menamakannya didukung oleh lakon:
Si Cetok : seorang pria sedikit keren dan lumayan bego, berkebiasaan cetak-cetok semenjak lahir maka bernama Cetok.
Si Kemat : sesuai namanya Kemat, ia lahir Kamis malam Jumat, seorang pria lumayan ancur tampangnya di bawah standar idaman wanita, tapi lumayan berwatak shufi.
Si Mince : hanya seorang cewek.
(lagu “Hati yang Mencinta” by. NEO)
Si Cetok :
(via Hp) “Hallo cinta, bangun baru nih? Apa? Ya iya dong? Gue gitu loh, belahan jiwa cinta. Lagian ada belek di mata tanda bangun dari lelap hehehe. Oh ya, abang gak bisa nganter cinta ke salon hari ini nih, soalnya lagi buru-buru, ada proyek baru nih, gak pa-pa kan? Sip. Ntar baliknya aje abang jemput ya. Okelah klo begitu. Biasa nanti ngetem di DPR, di bawah pohon rindang. Udah dulu ya cin, dah......., jangan lupa bangun tidur langsung minum su... su, tak lupa gosok gigi hehe, mmuach...”
Si Kemat :
“Waduh, mesra banget nih aromanya, pake bumbu cinta-cinta segala. Emang ngomong sama siapa seh lo?”
Si Cetok :
“Biasa lah sapa pagi buat yayang lah...! Ya ginilah resiko orang ganteng, dapat gebetan cakep, tajir pula coy. Udah ya! gue cabut dulu. Kelamaan bertengker bareng lo bisa-bisa gue terinfeksi muka ancur ember lo.” (ngacir seraya terbahak)
Si Kemat :
“Brengsek lo! Jelek-jelek gini ni, tau gak, anak pejabat coy, kantong tebel abis. Anak pejabat mamen..., bangga dwoong! Meskipun yah gak bisa ngurusin kali lah, sampai warna air kali kaya air susu rasa strobery, dan banjir lagi banjir lagi. Emang gue pikirin, yang penting pejabatnya itu men..... Oke coy? Oh ya gue juga kudu cabut nih, idem ma si Cetok.”
****
(Sore hari, si Cetok dan si Kemat nongkrong di DPR menanti gebetan si Cetok. Namun tak disangka nampak sosok sang gebetan si Cetok bergandeng tangan ama yang lain, mesrah pula. Si Cetok dan si Kemat melongo berat)
Si Cetok : (bertingkah kesal, sebel, kecewa, campur aduk rasa rujak super pedas)
(dialog dengan lagu “Baik untuk Baik” by. AIJ)
“Awalnya sungguh indah saat ku mengenalnya. Saat ku coba untuk lebih tahu tentangnya. Seiring jalan waktu, semakin banyak ku tahu betapa dia persis seperti harapanku. Semua kelebihannya, segala kekurangannya, membuat aku malah jadi semakin suka. Apa yang dia rasa seperti yang ku rasa. Kita pun ingin hidup bersama di jalannya. Tapi pada akhirnya apa mau dikata, dia pun pergi bersanding dengan yang lainnya. Mengapa yang ku suka mengapa yang ku damba tapi tak bisa ku wujudkan menjadi nyata.”
Si Kemat :
“Tak perlu engkau cemas. Tuhan nyatakan di Quran. Yang baik tuk yang baik. Yang buruk tuk yang buruk. Maka jadilah yang baik biar kau dapat yang baik.”
Si Cetok :
“Smakin bertambah waktu ku tak pernah bertemu seorang yang persis seperti dambaku. Sepertinya tak ada yang sebaik dirinya. Akankah nanti ku dapat gantinya. Aku sudah ke sini, aku sudah ke sana, ku tak pernah temukan yang sepertinya. Mengapa yang ku suka, mengapa yang ku damba tapi tak bisa ku wujudkan menjadi nyata.”
Si Kemat :
“Tak perlu engkau cemaas. Tuhan nyatakan di Quran. Yang baik tuk yang baik. Yang buruk tuk yang buruk. Maka jadilah yang bai biar kau dapat yang baik.
****
(beberapa ribu jam berikutnya si Cetok masih tetep diselimuti awan mendung kesedihan berbumbu kemarahan)
Si Kemat :
“Udahlah jangan murung terus dan marah-marah gak jelas gitu, tak usah kau sesali hari yang lalu yang penting hari ini dan besok-besok gimana biar lebih baik. Kesedihan, musibah, bukanlah untuk terus diratapi dan kau aliri dengna air mata. Tapi bagaimana agar kesedihanmu menjadi ceria. Mungkin cintamu yang kau alamatkan untuk yang kau cinta ada yang mencemburuinya. Yang Maha Pencemburu cemburu akan cintamu kepada yang kau cinta selain-Nya.”
Si Cetok :
“Tapi... tapi... tapi...! ugh!!!” (dengan nada marah mencoba membela diri, berapologi)
Si Kemat :
(Reff “Cinta Sejati” by. AIJ) “Cinta yang sejati cintanya Ilahi tak perlu kau takut dikhianati. Cinta yang sejati cinta tuk Ilahi. Kau tau kan pasti dibalas lebih.”
Si Cetok : (bagai tingkah orang hampa)
(dialog dengan lagu “Yang Penting” by. AIJ)
“Rasanya aku telah telah mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya. Tapi tetap saja dia sepertinya tak peduli apa yang tlah ku buat untuknya. Aku sudah coba dengan segara cara untuk menarik perhatiannya. Aku sudah sayang tapi dia tidak, jadinya seperti bertepuk sebelah tangan. Sepertinya tak seorang pun yang punya yang punya rasa peduli kepadaku. Sepertinya tak seorang pun yang punya rasa sayang padaku. Rasanya aku tak pernah ada berbuat salah dan berbuat tercela. Tapi yang ada dia perlakukanku seolah aku seperti penjahat kriminal. Sepertinya tak seorang pun yang punya rasa peduli kepadaku. Sepertinya tak seorang pun yang punya rasa sayang padaku.”
Si Mince :
“Usah engkau bersedih. Usah engkau sakit hati. Bila tak ada yang sayang, yang penting Tuhan sayang. Seribu orang pun yang menyayangimu kan percuma saja, tak akan berguna seandainya Tuhan tak sayang padamu.
Si Centok :
“Yang penting sekarang diriku jangan sampai berbuat tercela yang bisa bikin Tuhan jadi marah. Yang penting sekarang diriku berbuat yang baik biar ku semakin disayang Tuhan.”
****
Si Kemat :
“Waduh bisa kiamat duluan nih klo kerjaanmu terus-terusan berendam air mata. Sudahlah! Sadarlah! Yang penting sekarang dirimu tak lagi terjerumus lagi akan kata “terlalu” yang sudah lalu. Hingga lahir ratapan, penyesalan, marah, kecewa, kesal, yang membuat hidupmu jadi gelap, buntu terasa.”
Si Cetok :
“Ya ya ya!”
(dialog dengan lagu “Tak Kau Ulang” by. AIJ)
“Hah, ku banyak salah. Masih ada kesempatan nggak ya? Menyesal, menyesal kini aku menyesal, kenapa dulu aku sering berbuat tak berguna. Terbuang, terbuang semua waktuku hanya untuk banyak hal yang tak ada gunanya. Begini pun malas, begitu pun malas. Maunya, maunya aku ini hanya mau dapetin yang enak-enak saja. Nggak mau usah, nggak mau susah payah. Maunya dapetin sesuatu dengan mudah. Jadinya, jadinya hidupku ini tak ada yang bisa untuk aku banggakan. Semua jadi gelap, masa depan gelap. Rasanya hidupku tak ada semangat.”
Si Kemat :
“Bukankah semua orang pasti punya salah. Yang penting kau cepat sadar tak kau ulangi itu.” 2x
Si Cetok :
“Hidupku, hidupku, rasanya hidupku ini tak ada artinya, tak ada gunanya. Ingin ku kembali ke masa lalu, merubah kesalahan yang pernah ku buat dulu. Andaikan, andaikan saja dulu ku tak bersikap dan bertingkah seperti itu. Bagaimana mungkin, rasanya tak mungkin aku bisa menyongsong masa depanku nanti. Jadinya, jadinya hidupku ini tak ada yang bisa untuk aku banggakan. Semua jadi gelap, masa depan gelap. Rasanya hidupku jadi tak ada semangat.”
Si Kemat :
“Bukankah semua orang pasti punya salah. Yang penting kau cepat sadar tak kau ulangi itu.” 2x
****
Si Cetok :
“Terima kasih teman. Walau muka kau ancur, mungkin ini gunanya teman yah. Satu hati satu rasa satu bagai tak terpisah. Kau telah membukakan kembali cahaya mata hatiku yang tertutup sekian lama oleh tinta hitam cinta semuku yang terjebak dalam “terlalu”. Sebelumnya aku selalu bilang pada cinta semuku “hampa terasa hidupku tanpa dirimu” (lagu “hampa” by. Arilaso). Kini aku bisa berkata “terasa bercahanya hidupku meski tanpa dirimu”. Karena ada diri-Nya di hatiku.”
****
(penari latar masuk panggung)
Suara sang Dalang di balik layar :
“Kawan-kawan, kala kita ingin menemukan, memiliki, merasakan cinta sejati akan apapun dan siapapun, cinta itu harus dipayungi dan diselimuti dengan cinta Yang Maha Sejati, cinta Ilahi. Tanpanya, tanpa payung dan selimut cinta Yang Maha Pecinta, cinta sejati kita akan kepanasan di kala terik matahari begitu menyengat di siang bolong, dan kedinginan menggigil saat diguyur hujan deras. Cinta seharusnya kita peruntukkan untuk Ilahi, Tuhan sang Pecinta, bukan kepada selainnya. Cepatlah rubah cinta kita. Bukan ujug-ujug dalam artian kita berpaling jauh 180 derajat dari cinta kita kepada harta, tahta, dan manusia, demi cinta Ilahi yang abadi, itu malah menyelesaikan masalah dengan masalah hingga nambah masalah bukan malah jadi solusi masalah yang tak bermasalah.
“Salah besar seorang hostes meninggalkan pekerjaan di diskotiknya demi taubat sementara ia tak punya pegangan hidup selain pekerjaan hostes. Harus perlahan, hostes tetap jalan, taubat jalan juga sambil proses mencari solusi pegangan hidup selain hadi hostes. Bukankah laa ikraaha fi ad-dien. Dan kalau nggak bisa ditinggalin kenapa kudu ditinggalin hanya untuk sebuah kebahagiaan akhirat. Salah besar kalau kita tinggalkan dunia hanya untuk akhirat. Wong, Tuhan saja nyuruh kita nguruh dunia-akhirat ber sa ma an kok! Olehnya kita kudu bisa membedakan antara taubat atas nama nafsu dan taubat atas nama cinta. Di sini bukan mempermasalahkan haram-halal boleh tidaknya kerjaan hostes atau pun pacaran misalnya, pacaran pacaran saja klo gak bisa ditinggalin wong takdirnya begitu, yang penting masiah dalam lingkaran cinta Ilahi. Tapi ini bagaimana menuju proses kemaslahatan bukan malah menimbulkan kemudharatan yang gak jelas. (dipahami dari novel “Jack & Shufi” by. Lukman Hakim).
“Yang terpenting dari itu semua adalah pickontrol, penyeimbang keseimbangan. Pickontrol itu ada dalam diri kita. Apa atau siap dia? Yah, dialah HATI. Ialah pusat mekanisme hidup kita yang ditopang dengan akal pikiran yang sehat. Benar kata Aa Gym: “Jagalah hati jangan kau kotori jagalah hati lentera hidup ini. Jagalah hati jangan kau nodai jagalah hati cahaya Ilahi.”
“Satu hal lagi jangan terjebak akan kata “TERLALU”, karena yang terlalu itu memabukkan. Dan memabukkan itu haram loh! Nabi berkata: “kullu musykirin haram wa kullu haram fi an-naar.”
****
(semua di atas panggung, Nyanyi bareng “Jagalah hati” by. AIJ)
Bersama :
Jagalah hati jangan kau kotori jagalah hati lentera hidup ini
Jagalah hati jangan kau nodai jagalah hati cahaya Ilahi
Dalang :
Jagalah hatimu di manapun mau/ karena itu yang jadi cermin dari dirimu/ seburuknya kamu dan dan baiknya kamu/ tergantung bagaimana kau menjaga hatimu / kau berbuat baik kah kau berbuat buruk kah/ semuanya itu bersumber dari hatimu / maka terus jaga hatimu di manapun engkau selalu.
Si Kemat :
Bila hatimu putih jiwamu pun kan bersih / pikiranmu pasti jadinya semakin jernih / bila hatimu gelap pikiranmu terlelap / tutur dan tingkah lakumu bisa jadi kalap / cahaya Ilahimu kan terangi hatimu / menjadi penuntun arah setiap langkahmu / maka terus jaga hatimu di manapun engkau selalu.
Si Cetok :
Dekatkan hatimu pada sang Penciptamu / maka dia juga pasti kan dekat denganmu / bila hatimu jauh dia pun pasti jauh / suasana hati pun jadi rusuh / bila bahagia itu menjadi harapanmu / sebagaimana Rasul dan sahabatnya dulu / maka terus jaga hatimu di manapun engkau selalu.
****
(penyanyi latar terus bergerak dengan formasinya mengikuti alunan instrumen musik etnik)
Si Cetok:
“Cintak yang dibangkitkan oleh khayalan yang salah dan tidak pada tempatnya bisa mengantarkannya pada keadaan ekstase. Namun kenikmatan itiu, jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya. Kekasih yang sadar akan hadirny seorang yang mencintainya. Ini sebagaimana kenikmatan lelaki yang memeluk tugu batu di dalam kegelapan sambil menangis dan meratap. Meskupun ia merasa nikmat karena berpikir bahwa yang dipeluk adalah kekasihnya, tapi jelas tidak senikmat orang yang memeluk kekasih sebenarnya yang hidup dan sadar.” – Jalaluddin Rumy –
Si Cetok :
“Pecinta tidak akan mampu membuktikan keindahan kekasihnya. Namun tidak akan ada seorangpun yang mampu meyakinkannya agar membenci kekasihnya. Memang demikian keadaannya. Dalam menghadapi perkara semacam ini, bukti logis itu tidak berarti menghadapi peristiwa yang demikian. Orang mesti langsung menerjunkan diri dan menjadi pencari hubungan cinta. – Jalaluddin Rumy –
Si Mince :
“Ku jadikan Engkau teman percakapan hatiku. Tubuh kasarku biar bercengkrama dengan insani. Jasadku biar bercengkrama dengan tulangku. Isi hatiku hanya tetap pada-Mu jua.”
“Ku cinta Engkau lantaran aku cinta dan lantaran Kau patut dicinta. Cintakulah yang membuat rindu pada-Mu. Demi cinta suci in, bukalah tabir penutup tatapan sembahku. Jangan puji aku lantaran itu. Bagi-Mu lah segala puja dan puji.” – Rabi’ah al Adawiyah –
Dalang :
“Tuhan bersama kita.... kita harus yakin akan masa depan kita. Masa depan kita adalah Tuhan itu sendiri. Tuhan menakdirkan kita terjerumus di tempat hiburan diskotik misalnya, jangan kau sesali. Karena ini takdir Ilahi. Kita harus belajar berbaik sangka kepada Tuhan, dengan cara memahami bahwa terkadang Tuhan menakdirkan hamba-Nya berbuat dosa, dalam rangka si hamba itu untuk lebih mampu dekat dengan-Nya. Nabi Adam berdosa dengan pelanggaran-Nya, tetapi beliau menyadari bahwa itulah takdir Tuhan agar kelak bisa melahirkan keturunan di dunia, termasuk membangun peradaban yang memuncak pada salah satu keturunannya, Sayyidina Muhammad SAW. Tanpa Adam AS, berbuat salah, Nabi tidak pernah lahir di dunia. Nah, itu untuk hal yang berlalu. Tidak boleh untuk yang akan datang, misalnya, kita berpikir, aku ingin maksiat... ah, biar dekat dengan Tuhan. Itu dilarang, karena kata-kata itu muncul dari hawa nafsu kita... bukan karena cinta Tuhan.” – M. Lukman Hakim dalam novel “Jack & Shufi” –
Dalang :
“Saya pernah mendengar doa wanita pelacur yang mungkin hatinya tidak pernah melacur, jiwanya untuk Allah. Dan setiap dia melacur ia hanya ingat Allah, bahkan menjerit-jerit. Begini doanya: Tuhan, Engkau tahu aku adalah hamba yang Engkau ciptakan, dan Engkau pun tahu aku seperti ini tidak lepas dari takdir-Mu. Kini aku hanya ingin kembali kepada-Mu, setelah seluruh isi makhluk-Mu tidak ada yang menjadi harapanku. Kalau seluruh makhluk-Mu saja mencaciku, menghinaku, menghempaskanku, lalu Engkau pun juga hendak membuangku, lalu siapa lagi yang bisa menerima hamba yang hina ini Tuhaaan....! Padahal Engkaulah satu-satunya harapanku... karena itu terimalah aku di pangkuan-Mu ya Tuhaaaaan! Konon katanya munajat didengar Tuhan, karena berangkat dari cinta bukan karena nafsu.” – M. Lukman Hakim dalam novel “Jack & Shufi” –
Si Kemat :
“Selama anda masih hidup di dunia, selama itu pula masalah akan nampak di depan mata anda. Jangan merasa asing dengan masalah, karena dunia ini dipenuhi oleh wataknya, dan watak alami dunia ini adalah problem dan masalah.” – M. Lukman Hakim dalam novel “Jack & Shufi” –
Si Kemat :
“Hidup ini positif negatif yang keduanya harus berjalan beriringan. Gak bisa positif negatif disatukan karena pasati konslet. Dan gak bisa pula dipisahkan karena hidup tak akan bercahaya. Hidup ini bagai batu baterai yang dihubungkan positif negatifnya hingga menghasilkan lampu bercahayanya. Tinggal kita pandai memilih peran, menjadi positif atau negatif.”
****
Lakon berakhir dengan bersama mengumandangkan lantunan Ari Lasso:
“Cinta... sejati... tak akan pernah mati... selalu menghiassi ketulusan cinta ini...”
Penggores: must-x
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak