Pak Haji Yang Tak Berkopiah Haji
Al kisah, konon katanya, dua tahun silam, seorang kyai yang istiqamah dengan tajugnya mendapat ‘undangan’ dari Tuhan menjadi tamu kehormatan di ‘rumah-Nya’.
Siapa pun, sesungguhnya tak menyangka akan undangan tersebut. Sampai pun dirinya tak menduga mendapat rezeki dan karunia itu. Bayangkan dia hanyalah seorang kyai tajug-an dengan penghasilan yang tidak menentu, namun penuh prediksi. Mungkin berkah keistiqamahannya dia mampu membangkukan anak-anaknya, dari terbesar hingga terkecil, ke jenjang pendidikan melebihi batas S3 (SD-SMP-SMA). Sampai pun ia mendapat undangan istimewa tersebut.
Undangan tersebut melewati titipan seorang kyai yang masyhur di suatu kota itu. Setelah kyai tersebut wafat, tersampaikan undangan itu. Sebuah kehormatan tersendiri bagi kyai dusun nan istiqimah itu.
Anugerah pun belum berhenti. Ketika keluarganya mengkhawatirkan kondisi kesehatannya bila ia memenuhi undangan tersebut bersahaja sendiri, tanpa ada orang terdekat keluarga yang menemaninya dan yang lebih mengerti tentang kondisinya. Maklum, kyai dusun ini sudah tergolong sepuh. Kembali menemukan jalan yang lurus pula cerah.
Keputusan diambil, istrinya menemaninya untuk memenuhi undangan tersebut. Seluruh keluarga besar mendukung, bahkan ada yang mau membiayai. Mendaftarlah istrinya dan anugerah kembali terulang ia pun bisa langsung berangkat tahun itu juga menemani suaminya, kyai dusun itu. Dan terulang lagi anugerah, sang istri kyai dusun itu juga bisa membiayai sendiri tanpa harus dibiayai keluarga lain dalam keluarga besarnya.
Beberapa hari mendekati hari pemberangkatan, bahkan jauh-jauh hari, banyak sanak keluarga bahkan masyarakat sekitar yang silih berganti berkunjung ke rumah, sekedar mengucapkan selamat dan nitip doa. Dan tak sedikit memberikan salam tempel. Dari situ secara tak langsung banyak masyarakat yang mensuport perbendaharaan perbekalan secara materi tanpa harap balas materi. Sungguh sebuah anugerah bagi calon tamu Tuhan ini. Segala tanggungan dan kewajiban kepada orang lain pun dapat tertunaikan. Hingga bisa melangkah ringan memenuhi undangan-Nya.
Saat hari pemberangkatan, dari ujung rumah hingga ujung bus penghantar para pemegang undangan. Tak henti-henti silih berganti orang bersalaman. Rasa haru, bahagia tak lagi terpisahkan. Yang ada harapan menjadi undangan yang bisa menghormati dan dihormati sebagai manusia yang bertaqwa.
Lambaik Allahumma lambaik.... bus itu telah membawa mereka berdua, hingga lepas dari pandangan khalayak. Mereka akan kembali dengan sambutan yang sama saat mereka dihantarkan.
Sebuah anugerah telah ia peroleh. Ia tetap dengan kesederhanaannya. Seperti yang mentradisi di lingkungan dusun itu bahkan di mana-mana, orang yang telah menunaikan undangan-Nya akan menyandang kopiah khas haji berwarna putih. Namun kyai dusun ini tetap dengan kopiah hitam ala Indonesianya. Tentu tetap dengan keistiqamahannya mendidik anak-anak di tajug itu dengan segala keikhlasan dan ketawadu’an ilmunya.
soale kopiah hajinya habis dibagikan ke banyak orang....salah satunya diminta dirimu...
BalasHapusdiumpetin opo dibagiin toh? :)
BalasHapussoali kopiah putie langkah sing kemot, endase terlalu cilik hehe...emang apa artinya kopiah putih haji?....
BalasHapussaya hanya memakainya sebagai simbol dalam tulisan itu. dan tentu pemaknaan kopiah haji dalam tulisan itu bisa dimaknakan berbeda oleh setiap orang yang membacanya, ketika disandingkan dengan kopiah hitam di situ misalnya. satu misal mungkin bisa dimaknai terkait pengakuan sosial di tengah masyarakat sekitar dan bisa jadi makna lain, kadang orang yang telah berhaji ingin ada pengakuan kalau status sosialnya naek drajat. namun secara substansi berhaji cukuplah tanpa embel apa2 tak harus berputih kopiah namun telah berhaji dalam diri yang substansi hehehe
BalasHapus