Apa
perasanmu saat bertemu kembali dengan idola setelah sekian lama tak berjumpa?
Itulah yang
saya alami saat perjalanan dari Ciputat Tangerang Selatan menuju Kranggan, Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat. Perjalananku kali ini untuk meliput acara di
salah satu kafe yang menawarkan live musik tembang-tembang lawas dengan
menghadirkan artis-artis legendaris Indonesia, namanya Warung Rakyat Nusantara.
Perjalanan
dengan sepeda motor ke Bekasi saya mulai start dari Condet, Jakarta Timur
setelah mengambil peralatan untuk liputan live music di Warung Rakyat
Nusantara. Seperti biasa karena belum sama sekali ke tujuan lokasi tersebut,
saya mengandalkan google map. Perjalanan kurang lebih 1 jam 30 menit sudah
termasuk macet di sore hari ibukota Jakarta.
Kalau tanpa
google map mungkin bisa lebih dari 1 jam 30 menit, karena ternyata jalan yang
saya lalui memang benar-benar belum pernah sama sekali saya melewatinya. Salah
satu yang benar-benar saya baru tahu, saat perjalanan menuju Bekasi, saya
melewati Pemakaman Masal Kerusuhan Mei 1998 di TPU Pondok Ranggon, Cipayung
Jakarta Timur. Saya jadi teringat masa-masa awal Reformasi itu. Tapi saya hanya
melewatinya saja tanpa berhenti sejenak dan tanpa foto, mengingat fokus tujuan
lokasi, khawatir terlambat.
Tapi di luar prediksi, saya datang lebih cepat, dan waktu menunjukkan akan masuk waktu shalat magrib. Saya pun langsung menuju masjid yang tidak jauh dari lokasi liputan, namanya masjid Syuhada. Di masjid inilah saya bertemu kembali dengan idola semasa kecil di Cirebon, Es Tape Ketan.
Tak harus menunggu lama, setelah saya
parkirkan sepeda motor, saya langsung pesan satu porsi es tape ketan khas
Cirebon ini. Sekedar info saja, kuliner khas Cirebon yang lain sangat mudah
ditemukan di Jakarta dan sekitarnya, seperti bubur ayam Cirebon, tahu gejrot.
Nah, kalau yang satu ini masih langka penjualnya di Jakarta dan sekitarnya.
Mumpung masih ada beberap menit sebelum masuk waktu shalat Maghrib saya nikmati
dulu es tape Ketan. Sepertinya puluhan tahun saya baru merasakan kembali nikmatnya
es ketan kampung halaman. Ah, jadi berasa tua… ha ha ha
Sambil menikmati kuliner idola ini, saya ajak
ngobrol si penjualnya. Ternyata penjualnya bukan asli Cirebon, namanya Bapak
Supri asli Jawa Timur (di lingkungannya biasa dipanggil bapa Dilla, anak
peremuannya bernama Dilla). Yang asli Cirebonnya ternyata istrinya, Bakung,
daerah di mana tape khas Cirebon diproduksi.
Bapak Supri mulai jualan es tape ketan ini
baru sebulan yang lalu, idenya setelah dia pulang kampung istrinya,
mengantarkan anak untuk daftar di Boarding School Babakan Ciwaringin, Cirebon.
Meski tapenya tidak mengambil langsung dari Cirebon, tapi istrinya yang membuat
sendiri, jadi tetep khas Cirebonnya tetap terasa.
Setiap sore, Bapak Supri berjualan di Masjid
Syuhada Kranggan Permai, Jatisampurna Bekasi, setelah dari pagi dari berjualan
keliling dengan sepeda motornya. Ada yang berminat mencicipi es tapenya? Kalau
kamu punya acara, Bapak Supri menerima pesanan es tape ketan, loh! Kamu bisa
langsung kontak saja nomor hp istrinya yang terlihat di gambar ini. Atau bisa
langsung kontak ke Bapak Sprinya di nomer 085881945666.
RASA ES TAPE KETAN
![]() |
| foto liputan6.com/panji |
Tampilan es tape ketan ini berwarna hijau,
warna ini akibat tape ketan yang dicampurkan, bukan karena pakai pewarna.
Selain tape, ditambahkan pula sedikit gula, air, dan es batu.
Tape merupakan makanan hasil fermentasi, kalau
bagi masyarakat sunda biasanya sering disebut peuyeum. Tapi tape Bakung Cirebon
ini bahan dasarnya adalah beras ketan, bukan singkong. Tape ketan bakung
disajikan bulat-bulat kecil, agar lebih mudah saat dinikmati.
Es yang menyegarkan ini harus berani kamu
coba, loh! Harganya murah meriah.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak