Ini cerita traveling lama sih, sekitar bulan Juni lalu. Pertemuan dengan peninggalan leluhur Nusantara yang tak terduga. Karena sebenarnya bukan tujuan perjalananku saat itu.
Saat itu saya ikut menjadi Relawan Quick Count untuk Pemilihan Kepala Daearah Serentak di Indonesia (Pilkada). Saya ikut mendaftarkan diri untuk relawan di Jawa Barat dan kebetulan mendapat tugas di Kabupaten Karawang.
Karena saya tidak tahu lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS ), tentu dong langsung bertanya kepada google dan sepanjang perjalanan mengaktifkan google map. Di google, saya juga iseng mencari tempat wisata yang terdekat tempat saya bertugas, yang memungkinkan saya mampir ke tempat tersebut setelah atau sebelum tugas relawan selesai. Muncul di Google tempat wisata yang terdekat adalah Candi Jiwa. hmmm harus mampir.
Meski di google map ada estimasi waktu dan jarak, saya memilih jalan pagi-pagi selepas shalat subuh, agar tidak terlambat sampai di lokasi, juga menghindari kemacetan. Dari Jakarta saya mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 60 km/jam, saya sengaja tidak ngebut, karena sambil menikmati udara pagi. Dengan kecepatan sedang, jarak Jakarta-Karawang saya tempuh sekitar 2 jam.
CANDI JIWA
Karena sampai di Karawang masih pagi, seketika ketika melihat petunjuk jalan ke arah lokasi Candi, saya putuskan untuk mematikan google map dan mampir ke Candi Jiwa.
Desain candinya unik, kalau candi-candi lain seperti candi Borobudur itu terbuat dari batu, Candi Jiwa berbeda, Candi ini terbuat dari susunan bata merah.
Lokasi situs ini berada di tengah persawahan dan sebagian lagi dekat permukiman penduduk. Secara administratif, Candi Jiwa terletak di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tidak jauh dari garis pantai utara Jawa Barat (pantai Ujung Karawang).
Konon Segaran Village dulunya sebuah danau yang terbentuk karena Sungai Citarum. Dan, lokasi Candi berada di dalam danau. Karenanya Desa ini bernama Segaran, dalam bahasa Sansekerta berarti laut, telaga atau danau. Jadi wajar kalau ada menyimpulkan bahwa Candi Jiwa dahulu merupakan sebuah mahakarya sang Budha yang berada di atas bunga teratai yang mengapung di atas air.
Konon, usia Candi Jiwa diprediksi lebih tua dari Candi Borobudur. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa Candi Jiwa dibangun antara abad ke-2 hingga abad ke-12 Masehi. Diperkirakan berkaitan dengan Sejarah Kerajaan Tarumanegara.
Kalau kita jeli, Candi berbentuk persegi 19 x 19 meter ini mirip bunga teratai. Di bagian tengah dari Candi Jiwa terdapat bekas bangunan yang berbentuk lingkaran yang diduga dulu terdapat patung Budha yang pernah berdiri.
MITOS CANDI JIWA
Selalu ada mitos kalau bicara Candi, kamu percaya? Ini cerita dari penduduk sekitar candi Jiwa, bahwa dulu, kalau kambing gembala selalu mati tanpa sebab ketika melewati unur atau gundukan tanah yang menutupi candi tersebut. Dari kejadian itulah, masyarakat sekitar menganggap tempat itu memiliki “Jiwa”, karena tidak hanya sekali, tapi beberapa kali kambing lewat di sana selalu mati. Oleh karena itu, masyarakat menamai candi itu dengan sebutan Candi Jiwa.
CANDI BLANDONGAN
Tidak jauh dari Candi Jiwa, ada satu lagi candi yang sama tersusun dari bata merah, namanya Candi Blandongan.
Menurut cerita, Candi Blandongan merupakan peninggalan jaman Sriwijaya dan Tarumanegara. Di dalam Candi Blandongan ditemukan banyak benda-benda bersejarah. Diantaranya Amulet dan Gerabah Buni.
Apa itu Amulet?
Amulet merupakan jimat yang ditanam seseorang saat ia mengunjungi suatu tempat. Bisa juga tanda saat seseorang memenuhi nazarnya atau sebagai tolak bala. Salah satu Amulet yang ditemukan di Candi Blandongan memuat tulisan zaman Sebelum Masehi, menggambarkan cerita tentang Sarasvati, yaitu ketika Budha mendapat ilham mengenai masalah keduniaan.
Candi Jiwa dan Candi Blandongan telah mengalami pemugaran, meskipun belum keseluruhan terbentuk seperti bentuk asli candinya. Sebetulnya saya ingin tahu lebih banyak tentang temuan-temuan detil di candi itu tapi sayang saat itu museum candinya tutup karena sedang libur nasional Pemilihan Kepala Daerah serentak (Pilkada).
Oh ya, di kawasan situs Candi Blandongan dan Candi Jiwa ini setiap tahun digelar perayaan hari Waisak. Sepertinya kalau kamu ingin berwisata ke situs Candi ini momen yang tepat adalah saat perayaan hari Waisak. Tapi kalau kamu lebih suka suasana tenang, hari-hari biasa sepertinya cocok ke sana. Hanya 2 jam loh kalau kamu naik sepeda motor dari Jakarta ke lokasi Candi Jiwa.
Setelah puas menelusuri kawasan situs Candi, saya kembali hidupkan google map menuju lokasi tugas negara hehe.
Pulang kembali ke Jakarta, saya memilih waktu sore hari, agar tidak terpanggang teriknya matahari di siang hari. Sebelum menghidupkan mesin motor, saya sempatkan makan soto di tepi sungai, sambil menikmati pemandangan pedesaan, ditemani anak-anak bertelanjang dada mandi di sungai.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak