Dulu waktu itu, kami hanya berdua menikmati liburan di Kota Tua, Jakarta. Masih jaman Trans Jakarta pakai tiket sobek, sekarang sudah pakai kartu elektronik. Sekarang jelang akhir tahun 2018, kami kembali liburan ke Kota Tua, tapi tak lagi berdua, sekarang kami bertiga.
SEKILAS WISATA KOTA
TUA JAKARTA
Batava Lama (Old Batavia),
sebutan lain Kota Tua Jakarta, sebagai permukiman penting, pusat kota, dan
pusat perdagangan di Asia sejak abad ke-16. Kota Tua Jakarta merupakan rumah
bagi beberapa situs dan bangunan bersejarah di Jakarta. Beberapa situ itu menurut
catatan Wikipedia di antaranya Gedung Arsip Nasional, Gedung Chandranaya, Vihara
Jin De Yuan (Vihara Dharma Bhakti), Petak Sembilan, Pecinan Glodok dan
Pinangsia, Gereja Sion, Tugu Jam Kota Tua Jakarta, Stasiun Jakarta Kota, Museum
Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Standard-Chartered Bank, Kota's Pub, VG
Pub Kota, Toko Merah, Cafe Batavia, Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah
(bekas Balai Kota Batavia), Museum Seni Rupa dan Keramik (bekas Pengadilan
Batavia), Lapangan Fatahillah, Replika Sumur Batavia, Museum Wayang, Kali Besar
(Grootegracht) ,Hotel Former, Nieuws van de Dag, Gedung Dasaad Musin, Jembatan
Kota Intan, Galangan VOC, Menara Syahbandar, Museum Bahari, Pasar Ikan,
Pelabuhan Sunda Kelapa, Masjid Luar Batang.
Arsitektur bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial Belanda
dan yang masih kokoh dan mengingatkan suasana Jakarta tempo dulu, menjadi daya tarik
wisatawan. Tak heran jika banyak sekali wisatawan yang datang berkunjung ke
Kota Tua, baik wisatawan lokan maupun luar negeri.
Di antara gedung-gedung
peninggalan Belanda yang banyak dikunjungi di antaranya: 1) Museum Fatahillah. Museum ini menjadi
saksi bisu perjuangan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaan. Di Museum ini
banyak sekali peninggalan benda-benda jaman Belanda yang masih tersimpan rapih.
Untuk masuk ke museum ini cukup murah dan biasanya antri kalau di hari libur. 2)
Museum Bank Indonesia. Museum ini
peninggalan De Javasche Bank, berdiri sejak 1828. Di sini kita dapat melihat
beragam informasi terkait perbankan di Indonesia. 3) Museum Wayang. Ini salah satu favorit saya kalau ke Kota Tua
Jakarta. Di sini kita dapat mengenal dan melihat rupa-rupa wayang asli di
seluruh Indonesia. Bahkan ada wayang dari luar negeri seperti dari Thailand,
Kamboja, Tiongkok, hingga Suriname. Setiap bulan di museum wayang ada
pertunjukan wayang di mingu ke-2 dan minggu ke-3.
Kalau kamu mau berkeliling, kamu
bisa coba naik sepeda onthel yang disewakan oleh Paguyuban Onthel Wisata Kota Tua. Kalau kamu
suka berbagi foto di media sosial, cantik juga berfoto di atas sepeda onthel
dengan latar belakang gedung-gedung tua.
MODA TRANSPORTASI KE KOTA TUA
Semenjak ada Bus Trans Jakarta, saya
tak lagi naik Metro Mini 86 jurusan Lebak Bulus – Kota untuk menuju ke Kota Tua.
Bus Trans Jakarta bisa jadi andalan kamu juga untuk menuju ke sana. Kalau kamu
sama dengan domisili saya di sekitar UIN Jakarta, kamu cukup satu kali naik
angkot dan turun di halte Pondong Pinang, langsung naik Bus Trans Jakarta
menuju Harmoni. TransiT sejenak di Harmoni, pindah naik bus Trans Jakarta yang
menuju Kota. Kenapa Bus Trans Jakarta
jadi pilihan? Karena lebih nyaman dan bebas macet sehingga waktu tempuh lebih
cepat dan ongkos lebih murah.
Tapi, hari minggu kemarin kami
mencoba naik KRL dari stasiun Kebayoran Lama, transit di stasiun Tanah Abang,
Naek KRL jurusan Bogor, transit di Manggarai dan satu kali naik lagi KRL menuju
stasiun Kota. Perjalanan ditempuh kurang lebih 1 jam 20 menit. KRL juga bisa
menjadi pilihan transportasimu menuju Kota Tua, selain Trans Jakarta. Trans
Jakarta dan KRL memang transportasi favorit warga ibu kota Jakarta dan
sekitarnya.
Yang agak tak nyaman naik KRL
adalah ketika di stasiun. Di beberapa stasiun untuk berpindah jalur peron,
mengharuskan kita naik turun tangga, seperti di stasiun Kebayoran Lama dan
stasiun Tanah Abang. Ketidaknyamanannya adalah tidak semua tangga adalah tangga
escalator. Jadi butuh tenaga ekstra membawa anak tiga tahun dan tas ransel. Apalagi
saat itu aktifitas orang di stasiun cukup padat.
Akhirnya sampai di stasiun Kota. Untuk
menuju wisata Kota Tua, pastikan dari pintu keluar stasiun sebelah kanan pas
kamu turun dari KRL. Dari stasiun menuju wisata Kota Tua cukup jalan kaki 2
menit. Tapi sayang, trotoarnya dikuasai pedagang kaki lima bahkan sampai ke
bahu jalan raya. Jalan kaki pun jadi tidak nyaman karena berdesakan dengan
pejalan kaki yang berlawan arah. Apa mungkin karena sedang liburan sehingga
pedagang kaki lima diberi kebebasan menguasai trotoar? Entahlah.
MAGIC ART 3D MUSEUM, YANG BARU DI KOTA TUA
Di dalam gedung-gedung tua Kota
Tua Jakarta ternyata menyajikan sisi kekinian juga. Dan tujuan wisata kami ke
Kota Tua adalah itu, ke Magic Art 3D Museum. Di dalam museum 3 dimensi ini,
kita bisa memuaskan diri berfoto ria dengan lukisan-lukisan unik. Semua lukisan
di sini ada sekitar 100, yang semua dilukis dengan tangan oleh para pelukis dari Korea dan Indonesia. Lokasi
Magic Art 3D Museum berada di Gedung Kerta Niaga 1.
Di libur natal kemarin, tiket
masuk untuk dewasa seharga Rp 80.000, pelajar Rp 60.000, dan gratis untuk anak
di bawah usia 4 tahun. Untuk masuk ke Museum, para pengunjung tidak boleh
membawa makanan dan alas kaki harus dilepas. Pengelola museum menyediakan tempat
penitipan barang dan menyediakan sandal bersih khusus untuk masuk ke museum, mungkin
tujuan menjaga agar tidak terjadi yang
tidak diinginkan terhadap lukisannya, karena ada beberapa lukisan 3D yang terpampang
di lantai.
Jangan lupa, pastikan memory
handphone cukup, baterai handphone full, dan kalau bisa bawa power bank, karena
di sini kamu bakal mabok foto dengan beragam pose. Dan jika bingung untuk memilih
angle yang tepat, jangan khawatir, ada petugas museum yang siap menjadi
potografermu. Di lantai museum juga telah disediakan tanda dan contoh gambar dan
gaya untuk berfoto di sisi depan setiap lukisan. Tanda ini menjadi tempat berpijak
agar hasil fotonya maksimal.
Area musim ini cukup luas terdiri dari dua
lantai yanga terbagi ke beberapa zona lukisan antara lain Zona Lukisan, Zona
Satwa, Zona Laut, Zona Rutinitas, Zona Dinosaurus, Zona Petualangan dan Zona
Horror.
Selain seru-seruan foto berpose dengan lukisan
3D, ada juga ruangan yang unik salah satunya mirror maze. Kami coba masuk ke sana,
hanya ada pencahayaan seadanya. Ruangan ini labirin yang dikelilingi kaca,
sebelum masuk kami dibekali semacam tongkat kecil.
Tongkat ini berfungsi untuk
meraba setiap sisi labirin agar tidak
menabrak karena semua dindingnya adalah cermin. Kalau kita sudah masuk labirin, hampir tidak
bisa menebak posisi dinding cermin, kalau tidak hati-hati berjalan bisa
nambrak-nabrak.
Sampai jumpa di cerita jalan-jalan seru
selanjutnya.













Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak