
Harga tiket pesawat melangit, harga tiket kereta naik 100%. Entah apakah tiket bus pun mengekor menaikkan ongkos hingga 1 kali lipat atau dua kali lipat.
Sepertinya tidak ada kebijakan yang mengatur tetap kenaikan ongkos transportasi ketka musim mudik tiba. Hingga seolah kebijakan itu ditangan si empunya transportasi berapa pun ia berkehendak menaikkan ongkos.
Mungkin karena saya tidak begitu tahu banyak tentang sunnah ekonomi, atau tidak begitu banyak mengikuti perkembangan informasi perongkosan, saya garuk-garuk kepala ketika ada kabar benar tiket kereta api (khususnya untuk kelas bisnis dan eksekutif) musim mudik tahun 2011 naik hingga 100%.
Pada hari-hari biasa Harga tiket Cirebon Ekspres (Cirek) tujuan Cirebon, untuk kelas bisnis dijual antara Rp 50.000-55.000, hari-hari weekend (Jumat-Minggu) dijual dikisaran Rp 70.000. Dan belakangan baru tahu kalau selama musim libur sekolah harga tiket Cirek memberlakukan harga weekend hampir penuh sepanjang bulan Juli 2011. Tentu berlaku pula untuk tiket kelas eksekutif.
Tapi seberapa persen pun kenaikan harga tiket kereta api, animo masyarakat yang hendak melaksanakan ‘ibadah mudik’ tetap memburunya. Terlihat tiket untuk H-1 pun ludes terjual, hanya (mungkin) beberapa lembar tiket duduk saja yang tersisa untuk penjualan langsung di loket pada hari pemberangkatan.
Di musim mudik uang tidak lagi bermasalah, yang penting bisa mudik sampai ke kampung halaman. Kondisi alam bawah sadar ini mungkin yang dimanfaatkan oleh ‘sunnah’ ekonomi. Namun mbok yo tidak sampai 100% gitu toh, bahkan dua kali lipat.
Pemerintah, dalam hal ini ’Kementerian Per-ongkosan transportasi’ harus melek melihat kondisi seperti ini. Tidak karena mentan-mentang angkutan transportasi umum kelas bisnis ataupun kelas ekskutif diklaim kebanyakan penikmatnya orang menengah ke atas, lantas pemerintah tak melek. Atau jangan-jangan pemerintah juga hendak mengeruk untung lebih di musim mudik kali ini dengan membabibuta pembiaran kenaikan tiket mudik yang sangat melambung tinggi. Jangan-jangan ’Kementerian Per-ongkosan transportasi’ sendiri yang berspekulan tiket mudik. Spekulan ini jelas-jelas merugikan masyarakat yang membutuhkan pelayanan publik.
Kalau hal ini diekori oleh ongkos transportasi selain KA dan Pesawat – yang sudah mengawali spekulan – dan tiket mudik pasca lebaran masih mencekek, maka jangan-jangan ’Kementerian Per-ongkosan transportasi’ si calo tiket itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak