
“Dia suaminya,” seloroh pelaku sms itu sesampailah di satu rel kereta, menunggu KRL ekonomi menuju ibu kota. Ternyata mereka berdua pun menunggu di rel kereta, duduk berdua di pojok kursi tunggu itu. Mereka berdua sesekali memperhatikan mereka berdua pula. Seperti terjadi pertengkaran antara suami istri tersebut, seorang cewek berambut semir merah keemasan serta bermake up tebal, bersandal hak tinggi, sementara seorang tua cowok sangat berjarak jauh umur, berkulit sawon matang dengan gaya pakaian jauh 180 derajat dengan istrinya dan bertenteng bawaan barang sang istri. Perang itu terbukti saat sang cowok mencoba menenangkan dengan mengelus tangan sang cewek, ditepisnya.
Gelap…., lampu lampu di rel kereta pun tiba-tiba padam, mereka berdua pun masih sesekali memperhatikan mereka berdua pula itu. “Oh, ternyata sudah baikan, obrolannya sudah mulai adem tampak dari raut wajah mereka berdua,” tutur seorang. “Betul, tangan mereka pula sudah bergandeng tangan tanda kasih. Sang cowok pula menyibakkan rambut sang cewek bermaksud merapihkannya,” bumbuh seorang lagi.
“Eh, bocah! seenaknya lo kencing dari atas peron mancur ke rel kereta,” kata seorang pada anak berumuran SD yang baru saja turun dari kereta, penjual minuman ringan berjalan. “Gak papa bang, masih kecil juga,” polos si anak. “bau tau,” serobot seorang lain. “Ah! gak makan pete pula kok bang,” enteng si bocah. Ah ada-ada aja ini bocah. Sedikit terjadi obrolan dengan si bocah itu tentang hasil jualannya hari ini. Dia kembali naik kerete ke arah bogor, lalu balik lagi dengan kereta jam 1 pagi menuju Jakarta. Anak se kecil itu berkelahi dengan waktu.
Terlihat pula di rel kereta, bocah-bocah seumuran SD kelas 6 dan SMP, nongkrong. Kadang-kadang mereka mendendangkan lagu jalanan. Namun yang nggak sedap terdengar ada beberapa syair yang tak sepantasnya dilantunkan oleh anak-anak sekecil itu, maaf agak ngejorok gitu. Ah…. Anak kecil jaman sekarang.
Setelah dua jam penantian KRL ekonomi datang pula, mereka berdua naik pula. Juga mereka berdua pasangan itu pun naik pula, sang cowok mendahului naik, ketika si kereta masih berjalan pelan-pelan hendak berhenti, ia meloncat indah memasuki gerbong.
Melewati beberapa stasiun, terjadi pula di malam minggu, di saat kereta berhenti di sebuah stasiun, para penumpang baru pun bertubi masuk gerbong. Naas, seorang ibu terjambret tasnya. Penjambret yang licin, ia beraksi kala kereta baru sreg-sreg jalan, ia jambret seorang ibu berposisi depan pintu gerbong. Cerdasnya, penjambret pun langsung loncat keluar di sisi gerbong yang sepi, ke kebon-kebon. Mereka berdua kira, ada seorang penumpang kakinya kena peron, ternyata kejambret.
Ah jabodetabek, masih saja menyimpan penuh kisah kusut pula di jalanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak