Haji Lane Street, Cerita Gang Kecil di Singapura

Hellooo… akhir tahun kamu mau menghabiskan uang di mana? Ups maksud saya, ke mana kamu pergi di holiday akhir tahun? Hehe Kalau t...

10 Oktober 2007

Kiamat Sudah Dekat Untuk Group Nasyid Indonesia

Mendengarkan lagu dengan alunan musiknya adalah obat yang mandi tersendiri bagi saya pribadi di saat ada tembok besar yang menghalangi saya untuk melanjutkan penelusuran cahaya meniti jalan setapak hidup yang berliku-liku. Dengan menikmati tangga nadanya, menjadi terasa nyata bola semangat mulai menggumpal untuk dapat menghantam tembok besar penghalang tersebut. Dan ba’dahu ada secercah lampu obor yang akan memberi pencerahan ke mana saya harus nglampah. Walau tak satupun alat musik yang bisa saya kuasai dengan perfect, mendengarkan lagu adalah media kontemlasi yang sungguh mandi, saat itulah luapan emosi terkumpul dan membludak ke luar membentuk suatu entitas baru dan semangat hidup baru.
Dulu lagu yang akrab di telinga saya adalah lagu-lagu aliran nasyid. Tidak heran bila tiap bulan saya selalu menyempat diri menyisihkan duit kiriman orang tua untuk membeli kaset-kaset aliran nasyid. Bahkan waktu di pesantren, saya bersama beberapa teman mencoba untuk mengakrabkan para santri – di pesantren tempat saya nyantri – dengan musik-musik nasyid. Salah satunya dengan memasukkan musik aliran nasyid dalam event-event lomba antar santri untuk kalangan santri sendiri. Ramuan ini persisnya sukses dan berhasil pula kaset-kaset aliran nasyid koleksi saya satu persatu minggat dan tak kunjung kembali selaras tradisi lana wa lakum di kawasan santri.
Lagu-lagu nasyid merupakan media dakwanya orang Islam. Mungkin kalau diamati – walau tidak seksama – pasti kita akan dengan cepat memahami bahwa syair-syair nasyid itu berarwahkan ajaran-ajaran Islam yang coba didakwakan melalui media seni tarik suara. Nasyid mulai sangat membuming – khususnya di Indonesia – dengan berawal dari keberadaan eksistesi group nasyid dari negeri jiran, Raihan. Kalau di Indonesia mungkin ada Snada yang lahir di UI. Menjamur kemudian group-group musik aliran nasyid lainnya di Indonesia mulai dari yang beralat musik jenis acapela sampai dengan yang berjenis kelamin musik modern. Group-group nasyid ini lahir dari orang-orang yang notebatenya para penggiat ajaran-ajaran agama, katakanlah mayoritas mereka dari kaum santri bagi kalangan pesantrennya, aktifis rohis bagi teman-teman sekolah umum selain di pesantren, kalangan aktifis lembaga dakwa kampus bagi kalangan mahasiswa, ataupun dari kaum mahasiswa perguruan tinggi Islam. Tidak heran bila syairnya kental nuansa Islamnya karena basic personalnya merupakan orang yang konsen dalam mendalami ajaran Islam.

Nasyid di Ruang Publik
Setiap aliran musik tentunya memiliki kawasan penikmat masing-masing, ini sangat tergantung bagaimana aliran musik ini dikemas sedemikian rupa sehingga menarik animo masyarakat sebagai konsumen untuk menjadi salah satu penikmatnya. Kadang pula ada satu jenis aliran musik bisa diterima dan dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat, baik bila kita memetakan masyarakat dengan kategori umur (orang tua sampai dengan anak-anak), atau pemetaan kategori masyarakat lainnya. Ini biasanya bagaimana lirik-lirik lagu ini mudah untuk dicernah dan diingat, seperti halnya awal-awal PeterPan sedang naik daun, selain para remaja yang menjadi penggemarnya, lagu-lagunya pun banyak digemari anak-anak bahkan mereka dengan mudah untuk menyanyikannya.
Untuk nasyid sendiri sepertinya memiliki pangsa pasar tertentu dan masih terbatas. Masyarakat sangat menerima aliran musik ini, tapi tidak semua lapisan masyarakat sudi menjadi penikmat aliran musik ini. Masih kalangan tertentu yang menjadi penikmatnya dan masih pada moment-moment tertentu pula nasyid berkumandang di ruang publik.
Kalau dibandingkan dengan aliran musik pop yang banyak digandrungi kaum remaja pada umumnya, frekuensi manggungnya para group musik nasyid tentu lebih sedikit dan penjualan kasetnya tidak menembus angka fenomental seperti kaset-kaset musik pop, mungkin Raihan termasuk pengecualian. Ini tentu tidak begitu mengagetkan karena seperti yang telah dikatakan di atas bahwa penikmat nasyid masih terkunci pada kalangan tertentu. Ini tentunya banyak faktor hingga tercipta seperti itu, faktor eksternal maupun internal, salah satunya bisa jadi dari sisi internaintnya bagaimana musik nasyid itu dikemas. Tapi kalau memang ketika pada saat momentnya datang sementara group-group musik nasyid tak kunjun datang, tentu menimbulkan tanda tanya. Terutama Ramadhan kali ini, jarang – untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali – group-group nasyid menghiasi layar tv stasiun-stasiun televisi Indonesia, minimal lagunya menjadi sountrek iklan atau sinentron. Sama halnya kondisi di ruang-ruang publik lainnya, seperti di mall-mall perpaduan suara vokalis nasyid yang rancak tidak lagi akrab di telinga masyarakat. Lagu-lagu religi memang tetap mengalun di bulan Ramadhan tahun sekarang tapi sayangnya bukan lagi group-group nasyid yang mengalunkan dan mempopulerkannya, toh meskipun ada beberapa lagu yang dulunya hits oleh group nasyid. Kalau Opik dikategorikan group nasyid yang lahir dari rahim yang notebenenya beraliran nasyid tulen, mungkin dia hanya satu-satunya yang masih laku di publik, barangkali tidak ada selainnya. Dan kalaupun ada group-group nasyid, yang ada jadwal manggung dalam acara-acara Ramadhan seperti acara santunan anak yatim, buka puasa bersama, ataupun acara dakwa-dakwa lainya di bulan Ramadhan, menurut hemat saya itu masih terkunci pada suatu kalangan tertentu atau terbatas, tidak bisa dikatakan sebagai publik yang lebih umum milik mayoritas. Jadi masih terkerangkeng oleh garis lingkaran.

Unsur Internaint
GIGI, Radja, Ungu, Inul Daratista, Melly Goslow, Gyta Gutawa, Irwansyah-Caca, Ihsan, ataupun mungkin masih banyak yang lainnya seperti Samson yang baru ada ancang-ancang merilis album religi, adalah para penggiat musik yang latar belakang mereka bukanlah aliran nasyid. Dua atau tiga tahun belakangan ini lagu-lagu religi yang mereka bawakan – lagu ciptaan sendiri atau pun hasil racikan dari lagu lama – sangat akrab di telinga masyarakat. Dan untuk manggung membawakan lagu-lagu regili di berbagai acara Ramadhan tahun sekarang, merekalah yang jadi pilihan untuk tampil. Kenapa tidak dari group-group nasyid?
Bila dikatakan bahwa mereka membuat album religi unsur komersilnya lebih kentara dari pada unsur dakwanya, tapi ternyata karya mereka diterima masyarakat. Syair-syair lagu ciptaan mereka sangat islamiy, mudah dipahami, dan sangat cocok untuk berdakwa. Mereka tidak ada yang sampai menuai protes dari masyarakat seperti halnya dulu kasus Dewa dengan album laskar cintanya yang panen protes dari beberapa kalangan umat Islam, baik dari sisi covernya maupun syair-syairnya. Bila dikatakan bahwa album regili mereka diterima khalayak publik lebih karena ditopang popularitas mereka sebelum merilis album regili, ya mungkin ada, tapi realitasnya materi-materi lagu yang mereka bawakan tidak kalah mutu muatan dakwanya dibanding dengan lagu-lagu ciptaan dari group-group nasyid. Lagi-lagi mayoritas masyarakat menerima dan menikmatinya, tentunya masyarakat tidak sedang dalam keadaan bodoh untuk menilainya. Bila dikatakan apa kapasitas mereka membawakan pesan-pesan agama lewat lagu-lagu yang mereka bawakan, sementara gaya hidup mereka pun tak jauh beda dengan gaya hidup para selebritis pada umumnya? Mungkin pertanyaannya group-group nasyid – katakanlah punya kapasitas – sudah melakukan apa untuk mencipta hal baru dalam kaitannya berdakwa lewat musik hingga kreatifitasnya masih diterkunci pada ruang-ruang publik tertentu?
Unsur komersil tentu tidak bisa dikesampingkan meskipun itu bukan menjadi tujuan utama yang sesungguhnya. Unsur komersil di sini tentunya juga jangan disamakan dengan tayangan televisi dalam bulan Ramadhan tahun ini yang kembali sedang menuai protes dan kekecewaan dari MUI, KPI, dan elemen masyarakat lainnya. Kalau boleh mencontohkan dari dunia perfilman misalnya Nikolas Saputra didaulat sutradara menjadi peran utama untuk memerankan sosok Gie dalam film Gie. Tentu ada alasan tersendiri kenapa Nikolas dipilih oleh sutradara untuk memerankannya toh meskipun tetap menuai kritik pula dari berbagai pihak. Tapi mungkin ini sisi unsur komersilnya bagaimana agar film ini banyak ditonton orang karena pemeran utamanya seorang Nikolas yang ganteng misalnya. Dan bagaimanapun ternyata film ini cukup sukses menarik animo masyarakat untuk mengenal lebih dekat dengan sosok Gie dan perjuangannya masa itu lewat buku-buku bacaan atau media lainnya. Unsur komersil tetap ada karena bagaimanapun tidak bisa dinafikan, yang terpenting tidak sampai porsinya melebihi substansi tujuan yang sesungguhnya dan jangan kehilangan ruhnya.

Kiamat untuk Nasyid?
Ramadhan dan beberapa hari dari Syawal biasanya dihiasi alunan musik-musik religi yang seharusnya disajikan oleh group-group nasyid. Namun nyatanya mulai 1 Ramadhan sampai puncak Fitri 1 Syawal tak satupun mereka kunjung bernada. Selain Bimbo dan Opik, Para pemilik stasiun televisi pun lebih menampilkan penggiat musik papan atas – yang notebenenya bukan aliran nasyid – untuk menyuguhkan lagu-lagu religi bahkan sampai puncak Fitri, karena mereka oke juga merilis album atau lagu religi, bahkan dengan penghayatan cukup sempurna saat manggung.
Menjadi pertanyaan besar kenapa para pelaku industri musik lebih memilih band-band atau penyanyi papan atas untuk membawakan lagu-lagu regili dibanding memilih group-group nasyid yang sudah makanannya menyanyikan lagu-lagu religi. Contoh kecil di Indosiar ada acara namanya tasahur, acara ini setiap episodenya selalu mengundang bintang tamu penyanyi papan atas untuk membawakan lagu religi, bukan group nasyid atau penyanyi religi yang memang sudah jodohnya menyiarkan lagu religi.
Bukan masalah sebenarnya mereka membawakan lagu-lagu religi, malah mungkin ini dinilai sebagai sebuah kemajuan untuk sebuah kebaikan dan pencerahan. Namun yang sangat disayangkan adalah mengapa ini juga tidak diikuti oleh orang-orang yang sudah khusyu'nya dalam syiar lagu-lagu regili, lagi-lagi saya katakan karya mereka masih terkunci dalam suatu ruangan dan belum bisa menjadi milik umata mayoritas – minimal untuk para penikmat musik.
Akhirnya menjadi sebuah PR besar bagi para penggiat aliran musik nasyid (baca; religi) untuk meramu sajiannya agar bisa menjadi makanan yang universal. Tidak hanya lidah kaum tertentu saja yang bisa menikmatinya, namun lidah-lidah slanker pun jatuh cinta padanya.[]must-x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak