Haji Lane Street, Cerita Gang Kecil di Singapura

Hellooo… akhir tahun kamu mau menghabiskan uang di mana? Ups maksud saya, ke mana kamu pergi di holiday akhir tahun? Hehe Kalau t...

31 Januari 2007

Sang Fitri di Serambi Mekkah



Lho! Idul Fitri kok ndak balik kandang toh?
Ndak kangen ma keluarga? Ndak lah! eman diongkos.
Hehehe itung-itung ingin ku rasakan aura Fitri Baiturrahman.
Bakal terasa kaya di al-Haram kah?
Baca terus deh! Yuuuk….



BANDA ACEH – Sore menjelang maghrib suasana di jantung kota Banda Aceh sikit-sikit menjadi gelap ditinggalin sang surya, maklum saatnya datang bulan. Manusia pun sikit-sikit berdatangan ke Baiturrahman, tapi belum begitu bejibun sampai dengan terdengar jeritan sirine terakhir tanda buka puasa dari corong Baiturrahman. Dijadwalkan malam ini jam 20.00 WIB (23/10), ada pawai takbir keliling kota Banda Aceh yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Aceh. Namun, kelihatannya peserta dari daerah yang berdekatan dengan kota Banda Aceh.
Senasib dengan Banda Aceh yang makin larut dalam dekapan malam, Baiturrahman dan sekenanya pun semakin larut dalam keramaian, didatangi berbagai manusia yang ingin melihat acara pawai takbir keliling. Walau standar keramaiannya, jalan dipadati kendaraan terutama roda dua, namun tidak sampai menimbulkan kemacetan seperti ulah bus trans Jakarta. Tepat jam 20.00 WIB konvoi pawai takbir ini dilepas oleh Pj. Gubernur NAD, Dr. Ir. Musthafa Abu Bakar, M.Si dari tribun kehormatan di depan Tugu Modal Masjid Raya Baiturrahman, ditandai dengan tabuhan beduk. Pawai takbir ini merupakan kerjasama Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dengan BPHBI Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam acara ini, turun hadir pula unsur Muspida baik propinsi maupun kota Banda Aceh, seperti terlihat Pjs. Drs. Razaly Yussuf Walikota Banda Aceh, Irjen Pol Bahrumsyah SH Kapolda NAD, Dr. Darni M. Daud, MA Rektor Unsyiah, Ketua Dinas Syariat Islam, Prof. Dr. Al Yasa’ Abu Bakar, MA, dan yang lainnya.
Di samping diikuti konvoi kendaraan bermotor roda dua, pawai takbir keliling kali ini dimeriahkan pula dengan berbagai macam bentuk kreasi mobil dan becak hias peserta. Mayoritas peserta mengambil tema bentuk masjid. Sebenarnya tidak ada hal yang baru bila kita melihat jalannya pawai takbiran di tempat lainnya. Namun, menurut mata saya ada satu yang nyentrik dari beberapa kreasi peserta malam itu, yakni becak khas NAD yang didandani seperti bentuk masjid (tapi lebih mirip seperti tempat lomba MTQ) dengan sepasang bocah yang didandani pakian khas Aceh, lucu deh.
Juga turut memeriahkan konvoi, para peserta pejalan kaki lengkap dengan obornya, diantaranya ada yang berdandanan pakaian ala Timur-Tengah. Sesekali mereka menyuled kembang api dari api obor. Sungguh menambah kemeriahkan malam fitri di Bumi Syariah Islam, Nanggroe Aceh Darussalam. Pawai ini berkeliling di sekitar jalan-jalan protokol kota Banda Aceh.

Selasa pagi di hari Fitri
Dua hari sebelum hari raya (Idul Fitri atau Idul Adha), meugang adalah tradisi yang biasa dilakukan masyarakat Aceh, yakni tradisi menyembeleh hewan sapi atau kambing untuk disantap bersama. Pada hari itu masyarakat Aceh memasak daging untuk disantap bersama keluarga atau dibagi-bagikan kepada tetangga dan fakir miskin. Tradisi ini juga dilakukan dua hari menjelang bulan Ramadhan. Meugang sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat Aceh, sepertinya kurang afdhol deh ibadah puasa tanpa meugang.
Dan seperti umat NU dan Muhammadiyah lainnya, tahun ini di Aceh masih tetap hari raya Idul Fitri diperingati pada tanggal 1 Syawal (gak ada perbedaan sama sekali kan?). Di awal Syawal itu, saya pun ingin mencoba merasakan aura shalat ‘id di Baiturrahman. Saya bela-belain shubuh-shubuh benar cabut dari rumah. Jalan kaki adalah pilihan sambil berharap ada tumpangan yang lewat. Beruntung beberapa menit kemudian becak lewat, jadi gak pake lama sampai Baiturrahman.
Sesaat sampai di Baiturrahman, suasana masih nampak sepi, jama’ah belum terlihat berdatangan. Walau nampak mendung, sang surya terlalu setia memuntahkan terangnya untuk bumi. Cahaya-cahaya buatan di Baiturrahman pun perlahan ngaso. Ternyata ini pertanda shalat ‘id akan terjadi di lapangan Blang padang, sebelah kidul dikit dari Baiturrahman. Sedikit kecewa saya rasakan, tapi boleh buat apa. Prosesi ritual shalat ‘id di kota Banda Aceh untuk tahun ini yang bertindak sebagai imam Tengku Syarifuddin Miga, SE, beliau adalah imam masjid raya Baiturrahman. Untuk khatibnya Ketua Umum DPP BKPRMI, Drs. H. Ali Mochtar Ngabalin, MA. Sementara Pentakbir adalah dari para muadzin Masjid Raya Baiturrahman IPQAH kota Banda Aceh.
Detik-detik ritual pun tinggal 30 menit lagi. Namun, sang mendung mengundang grimis, hingga prosesi mendadak dialihkan ke Baiturrahman. Bisa dibayangkan dalam masjid berdesakan para jama’ah. Pokoknya dipepet-pepetin biar muat. Yang tadinya satu shof, dibuat dua shof biar muatan dikit.
Tercapai juga akhirnya, merasakan ‘id di Baiturrahman. Namun tak kurasakan aura Fitri Baiturrahman yang lebih kuharapkan, dengan suasana jama’ah bejibun yang berdesakan. Inginnya sih rasa itu seperti menemukan kembali Islam rahmatan yang telah lama dibungkam. Tapi saat itu tak kurasakan, entah karena grimiskah? Pokoknya, berlalu seolah tak ada yang istimewa, hanya saja ada getaran hp yang sempat kuangkat sejenak ketika khatib sedang naik pentas.

Nilai-nilai puasa dan pembangunan Aceh Baru
Beberapa menit setelah ritual shalat ‘id (24/10), dalam khutbahnya Sang Khatib mengupas tema – sedikit namun panjang – tentang Nilai-Nilai Puasa dan Pembangunan Aceh Baru. Disebutkan bahwa ada tiga hikmah puasa yang dapat dijadikan sebagai prinsip dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, ikhlas, yakni menunjukkan sucinya niat, bersihnya tujuan amal, dan lepasnya manusia dari perbudakan dunia. Kedua, tazkiyatunnafs, puasa mendidik seorang muslim untuk menghindari segala perbuatan yang tercela. Ketiga, muraqabatullah, puasa mengajari kita untuk menghayati kemahahadiran Allah. Kesadaran diawasi Allah merupakan summum banum atau kebaikan puncak yang dalam Islam disebut ihsan.
Ali Mukhtar Ngabalin dalam khutbahnya juga mengatakan bahwa dalam sejarah modern masyarakat Aceh, setidaknya ada tiga hal yang menyedot perhatian masyarakat Aceh, bangsa Indonesia, dan dunia internasional. Yakni konflik, tsunami, dan syariat Islam. Masyarakat aceh pernah mengalami konflik yang berdimensi sosial politis antara negara dengan unsur masyarakat yang berimbas pada konflik horizontal di antara elemen masyarakat. Tsunami yang berdimensi teologis-humanitarian merupakan pesan Allah agar kita merenungi kembali aspek hablumminallah dan hablumminannas; ketaatan kepada Allah dan solidaritas sesama manusia. Syariat Islam yang berdimensi sosio-religius merupakan komitmen sekaligus tantangan bagi masyarakat Aceh untuk memahami, menjiwai, dan menerapkan Islam secara kaffah dan menyeluruh.
Di penghujung khutbahnya, Ketua Umum DPP BKPRMI yang baru terpilih melalui munas X di asrama haji Banda Aceh akhir September lalu, selaku khatib pada saat itu menegaskan bahwa ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian kita dalam merespon persoalan-persoalan yang terjadi di sekitar kita. Pertama, menegaskan adanya hubungan antara persoalan-persoalan kehidupan dengan tingkat keislaman kita; terkait dengan pemahaman kita terhadap Islam, terkait dengan komitmen kita melaksanakan prinsip-prinsip Islam, dan terkait dengan konsistensi kita untuk menjadikan Islam sebagai solusi masalah sosial.
Kedua, diperlukan kesabaran dalam merespon persoalan-persoalan tersebut yang merupakan sunnatullah di mana ujian perlu diberikan kepada orang-orang mukmin. Sabar berarti menahan diri tidak menghalalkan segala cara untuk menyelesaikan persoalan, jauh dari keluh kesah dan putus asa. Karena sabar meminta kita untuk bersikap yakin terhadap adanya jalan keluar. Ini harus disertai dengan permintaan pertolongan kepada Allah.
Ketiga, kondisi yang menjadi masalah bagi umat Islam tidak seluruhnya merupakana kesalahan internal. Tapi juga terdapat kekuatan luar yang memang tidak senang umat Islam bersatu. (su’udzon dong hehe).
Keempat, optimisme bahwa Allah pasti akan memberikan jalan keluar. Optimisme adalah modal psikologis untuk tidak terus terpuruk dalam kesedihan. Tidak jarang dari kita melihat bahwa krisis terus berlangsung karena kita telah diliputi rasa putus asa terlebih dahulu. Kondisi ini semakin memperburuk motivasi kita untuk bekerja. Rahmat Allah tidak datang dengan sendirinya, tapi harus dicari untuk didapat.


Dua hari lengang
Dua hari tanggal merah hari raya Idul Fitri, geliat perekonomian dan aktifitas lainnya di Banda Aceh sedikit tertidur sejenak. Semua orang sibuk dengan silaturrahmi dengan sanak kerabat. Di hari pertama Idul Fitri nampak lengang suasana kota Banda Aceh, tak satupun nampak labi-labi bersliweran yang ngobjek. Kendaraan pribadi pun agak jarangan, bisa dihitung dengan jari lah (kapan ngitungnya yach).
Di hari kedua Idul Fitri (25/10), saya mencoba untuk pergi ke pantai Lhoknga. Untuk menuju ke sana, dibutuhkan waktu sekitar setengah jam dari terminal Keudah Banda Aceh dengan ongkos labi-labi delapan ribu. Terlihat di jalan masih nampak lengang, labi-labi masih begitu jarang. Namun di kota Banda Aceh nampak begitu ramai oleh remaja dan anak-anak, entah apa yang menjadikan pusat keramaian atau hiburan bagi mereka, saya tidak begitu memperhatikan. Seingatku, di kota Banda Aceh tidak ada tempat hiburan yang menarik. Ya... paling ada semacam timezone di Batara lantai tiga. Ada satu yang hampir lupa, tembak-tembakan adalah mainan anak-anak di Banda Aceh yang lagi ngetren untuk Fitri kali ini. mereka begitu bangga membawa tembak-tembakan laras panjang ke manapun mereka pergi.
Sesampai di pantai Lhoknga, pantai yang berdampingan dengan pabrik semen dan pernah dijadikan tempat untuk melihat hilal untuk penetapan Idul Fitri 1427 H. itu masih begitu lengang, sangat sepi pengunjung. Saya hanya melihat se-Kijang keluarga yang sedang asyik bermain menikmati pantai Lhoknga. Menurut informasi dari obrolan saya dengan supir labi-labi waktu menuju pantai Lhoknga, ternyata untuk dua hari pertama Idul Fitri, mayoritas masyarakat Aceh masih terkonsentrasikan dengan silaturrahmi ke sanak kerabat. Sangat berbeda suasananya bila kita melihat suasana Ancol dan TMII di Jakarta, ataupun suasana tempat-tempat rekreasi di wilayah III Cirebon pada dua hari tersebut. Konon katanya suasana lengang Banda Aceh dan Nanggroe Aceh Darussalam pada umumnya akan berlangsung selama satu minggu. (must-x)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak