Haji Lane Street, Cerita Gang Kecil di Singapura

Hellooo… akhir tahun kamu mau menghabiskan uang di mana? Ups maksud saya, ke mana kamu pergi di holiday akhir tahun? Hehe Kalau t...

31 Januari 2007

Perjalanan Aceh Jaya

12.30
Senin, 11 September 2006


MANDI BASAH KE ACEH JAYA

Jam 01.30-an
Bletak! Aku tersentak bangun. Mendengar angin kencang membawa hujan yang deras. Membuat ingatanku kembali kalau di dapur ada yang bocor. Sial! Karena terburu-buru lari-lari kecil, aku terpleset keset yang kuyup karena bocoran air hujan. Slaraaaaaak! Kira-kira begitu suara plesetanku, jadi ingat main ski di kutub utara ha.ha.ha. Sedikit mengerang tangan kiriku menahan beban badan. Yah walaupun agak sedikit banjir yang penting aku bisa memblokir tetesan bocoran dengan empat ember sekaligus. Aman.....gue bisa nyenyak lagi.

07.00-an
Seperti biasa olah raga nyapu, siram tanaman, cuci piring, sedikit cuci baju pula, dan masak juga buat sarapan tamu kunjungan dari Jakarta atau Cirebon, kebetulan sekarang kunjungan yang ketiga gilirannya Abdul Moqsith Ghozali. Sebelumnya ada kunjungan dari Faqihuddin Abdul Qodir, KH. Husein Muhammad, Kang Maman Imanulhaq, semuanya dari Cirebon kecuali Moqsith dari Ciputat. Kunjungan ini dalam rangka penguatan perspetkif perempuan plus anti trafiking pula.

09.00-an
Dengan avansa kita mulai perjalanan dari Banda Aceh menuju Aceh Jaya. Diantar oleh grimis rintik-rintik dan dikawal hujan sepanjang jalan. Perjalanan yang melelahkan dan nge-bt-in selama kurang lebih 12 jam. Sebenarnya ada jalan yang lebih deketan dikit jaraknya menyusuri pinggir laut, namun karena tadi malam hujan lumayan deras takut jalan itu kena air bah dari laut. Tiga hari sebelumnya saja hujan sepanjang hari kota Banda Aceh kebanjiran, tepat di sekitar Baiturrohman air banjir ampe 30 cm-an. Depan rumah singgahku pun kebagian banjir untung gak nyampe piyo (bahasa aceh artinya mampir) masuk rumah, cukup dari air bocoran saja.
Akhirnya gak ada pilihan lain kecuali melewati jalan menyusuri hutan yang panjang dan berlubang-lubang. Perutku pun bergoyang, terguncang jalan berlobang (entah kenapa banyak lubang yang gak wajar, karena pemerintah gak perhatian kah, atau itu lobang peninggalan masa konflik RI-GAM kah? Gak tau gue, yang penting tu lobang bikin sebel tau!!!). Lahirlah mual kareta gue duduk pas di pusat gempa, jok belakang. Weleh! Antara asyik dan gak asyik. Hujan pun masih begitu setia mengawal perjalanan.

18.30-an
Akhirnya nyampe juga di Meulaboh, tau kan? Itu tuh, daerah terparah yang kebagian tsunami 24 (atau 26 sih?) Desember 2004. Di sinilah banyak daratan yang menjadi lautan. Sampai ada jalan trans Meulaboh-Banda Aceh tergerus menjadi lautan.
Sejenak kita ngaso di pom bensin, lanjut perjalanan menuju tujuan Aceh Jaya. Sempat kita lupa jalan jadi sempet nanya ke orang. Felling ku kok gak enak, jangan-jangan ini jalan nyasar. Sopir mau nanya pun kebingungan, padahal kita dah nyuruh dia kalau pas nyampe di pertigaan, atau perempatan, atau perduaan, nanya gitu. Yah gitu deh! Akhirnya kita sempet ampir masuk hutan lagi, tapi karena sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan, kita putar balik. Sebenarnya bener sih jalannya, tapi agak jauhan menuju Teunom. Ya takut aja malam-malam lewati tengah hutan, hiiiie atut. So kita nanya lagi ke orang, sempet dapat jalan lain yang lebih deketan. Maklum sopir pun agak lupa gituan karena banyak jalan baru setelah tsunami karena terkikis abis oleh lautan. Oh ya sebelum nyasar ke hutan lagi pun, jalan masih gak bagus banyak bukit-bukit kecil berlubang yang bikin mobil goyang. Entah ya, kok pemerintah lewat BRRnya kayaknya gak serius banget nanganin aceh, padahal orang BRR di gaji gede loh (pokoknya apapun yang bersangkutan ma proyek aceh gede deh, kecuali aku hehehe). Dan semua orang tau kalau Meulaboh daerah terparah. Sayang perhatiannya masih gak sayang.
Sejenak kita mampir di warung, sekedar untuk mengganjal perut. Sejenak pula kita mendengarkan cerita tsunami dari pemilik warung. “Dulu tempat warung ini kena tsunami dan di depannya dulunya banyak rumah, sekarang sudah gak ada. Bapak alhamdulillah selamat karena pas air pasang langsung cabut ke dataran tinggi dengan kereta (orang aceh kalau bilang motor gitu, kadang pula nyebutnya honda). Hanya tiga menit semua rata dengan tanah. Di tempat bapak ini kalau gak ada bantuan makanan 7 hari setelah tsunami karena semua orang sudah lunglai, mungkin orang yang selamatpun meninggal pula. Kalau bapak gak masalah, cukuplah bisa bertahan dengan makan buah kepala he kelapa. Waktu itu bantuan datang lewat helikopter pas depan warung ini, itu tu di sana. Depan sana tuh sudah jadi laut, tadinya daratan. Dan pasca tsunami listrik untuk daerah sini masih sedikit, warung ini listrik bisa nyala karena pakai jenset. Padahal yang terparah yah kok gak diduluin gitu,” singkat ceritanya.

21.00-an
Terasa perut sudah lumayan ditambah istirahat sebentar, kita mulai perjalanan lagi menuju Teunom sesuai dengan petunjuk bapak pemilik warung tadi. Wuih jalannya booo’, masih tanah, basah lagi abis diguyut hujan, di samping pas itu lautan. Ya kadang ketemu jalan yang beraspal tapi banyak nemu jalan tanahnya. Di tengah jalan pas 22.00-an kita bingung melanjutkan gak, karena sepertinya jauh dan gak jelas berapa lagi. Sejenak kita berhenti, mikir lanjutkan gak. Ngeri juga malam-malam gak ada listrik gelap gulita, tanda kehidupanpun gak ada, kalau ada masih jauh pula, kita gak tau berapa jam lagi nyampe sana karena kebetulan belum ada yang pernah ke sana. Di samping suara ombak laut pun mendesah-desah. Akhirnya kita mutusin balik lagi aja ke Meulaboh cari penginapan dan gak balik lagi ke Teunom, melelahkan jalannya, “yang penting kita sudah ada usaha menuju ke sana tapi emang sulitnya jalannya gimananya laginya kannya” celoteh Mas Moqsith. Iya sih, trus yang ada di Aceh Jaya pun dikontek gak nyambung-nyambung.
Ya akhirnya kita di Meulaboh lagi dapet penginapan, Hotel Tiara namanya. Gile mahal pula 200/malam, sempit lagi kamarnya. Sekarang pun hujan masih mengguyuuuuuur, kejubar, suaranya. BERSAMBUNG DENGAN WAKTU TAK DITENTUKAN 

(EH JANGAN BENGONG MIKIRIN JUDUL DI ATAS, MANG GAK NYAMBUNG YE.....HA.HA.HA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak