Orang berduit ingin membela orang miskin dan bersimpati kepada mereka tetapi tidak ingin orang lain melihat dan hanya anda dan Tuhan saja tahu, cukup dengan tidak membeli gas tabung 3 kg.
Asep,
pedagang bakso keliling yang biasa jualan di komplek perumahan saya sudah
beberapa hari ini tidak keliahatan. Lelaki asal Sukabumi itu, sering sholat di
masjid perumahan sambil menunggu pembeli, ibu-ibu yang mengantar anaknya
mengaji. Biasanya, kalau tidak jualan,
Asep pulang ke kampong dan selalu pamit kepada jemaah terakhir yang ditemui di
masjid. Tapi sudah 2 hari ini enggak ada kabarnya. Ini sudah masuk hari ketiga,
tidak melihat laki-laki penjual "bakso malang" itu lewat disekitar
perumahan.
"Di
mana, Sep?" Kang Teddy bicara kepada Asep lewat telepon. "Koq enggak
ngabarin!". Kami pun menunggu Kang Teddy menyelesaikan bicaranya dengan
Asep. Dari cerita Kang Teddy, Asep tidak jualan karena tidak mendapatkan gas.
Beberapa pengecer di lingkungan tempat dia tinggal sudah beberapa hari kosong.
Asep memilih berhenti berjualan karena tidak ada pilihan bahan bakar lain untuk
memasak. Selama ini dia menggunakan gas
tabung 3 kg untuk memasak dan memanaskan kuah baksonya. Maka sejak gas itu menghilang dipasaran dia
terpaksa tidak bias lagi jualan.
Gas tabung 3
kg memang lebih murah dan praktis. Tabungnya yang kecil gampang diletakkan di ruang sempit sekalipun seperti gerobak
atau booth. Bahkan pedagang gorengan yang pakai pikulan menggunakan gas tabung
3 kg ini untuk berjualan. Bisa dibayangkan jika jualan dengan pikulan pakai gas
tabung 12 kg. Apa enggak remuk tuh badan.
Maka pedagang seperti Asep memilih gas tabung 3 kg ini untuk memasak dan
memanasi dagangannya. Tidak ada pilihan,
ya tidak ada pilihan. Memakai tabung yang lebih besar, selain tidak praktis
harganya tak terjangkau dan akan menggerus laba. Bahan bakar lain, seperti
minyak tanah sudah lama menghilang. Bahkan kompornya sendiri sudah tidak pernah
diproduksi lagi.
Orang seperti
Asep dan kawan-kawannya penjual gorengan atau bakso pikulan sering luput dari
perhatian ditengah hiruk pikuk kelangkaan gas tabung 3 kg. Padahal mereka
inilah yang menjadi sasaran dari pengadaan tabung gas 3 kg. Dan merekalah
korban yang langsung terkena pukulan jika gas itu mengalami kelangkaan. Tapi mereka memilih diam dan menerima
keadaan.
Sebuah
pilihan paling aman, toh jika bicarapun belum tenta ada yang mendengarkan. Asep
dan kawan-kawannya itu adalah orang-orang
yang sudah terlatih dengan kesulitan dan bias hidup di tengah himpitan
keadaan. "Yang penting halal dan tidak merugikan orang lain, Pak!"
katanya suatu kali saat ditanya tentang pilihan menjadi penjual bakso keliling.
Kegaduhan
kelangkaan gas 3 kg ini tidak terlepas dari banyaknya pengguna tabung gas 12 kg
yang beralih ketabung 3 kg. Secara kasat mata saja, di tempat saya tinggal,
mobil atau sepeda motor pengangkut gas 3 kg lebih banyak hilir mudik dari pada
yang membawa gas 12 kg atau 5,5 kg. "Pelanggan saya banyak yang ganti
tabung, Pak!" kata Nunu, yang biasa nganter gas ke rumah-rumah. Alasannya
sederhana, harganya lebih murah. Karena rumah tangga berpenghasilan tetap
kesulitan mengatur anggaran di tengah kenaikan harga kebutuhan yang lebih cepat
gerakannya dari kenaikan gaji. Mencari yang lebih murah adalah alas an praktis
dan pragmatis di tengah deraan harga yang naik tanpa memberitahu.
Tapi bila
sedikit mau memahami dan berbagi dengan sesama, tentu harga bukan satu-satunya
pertimbangan. Bayangkan jika orang seperti Asep harus berhenti berjualan hanya
karena tabung gas yang biasa dibelinya di warung kita ambil dengan alas an
lebih murah. Kitapun menyalahkan Negara mengapa tidak menyediakan gas 3 kg
lebih banyak? Seribu alas an bias kita cari sebagai pembenar tindakan yang kita
ambil sambil mengabaikan Asep dan teman-temannya penjual gorengan pikulan itu
dengan anak-anak mereka yang menunggu bapaknya pulang membawa uang. Tentu tidak
berarti uang yang ingin kita hemat dengan mengambil gas tabung 3 kg itu dari
gas 12 kg yang biasa kita pakai.
Bagaimana
dengan peran negara, koq tidak mau menyediakan gas tabung 3 kg lebih banyak
lagi agar tidak terjadi kelangkaan dan semua kebagian. Yaitu tadi, mudah mencari alas an dan
melakukan pembenaran atas sebuah tindakan jika semangat awalnya tidak peduli
dan tidak mau tahu. Sama dengan pembuang
sampah di kali yang tidak merasa bersalah atas tindakannya, karena yang penting
masalahnya selesai dan tidak ada urusan dengan tindakan itu merugikan orang
lain.
Dilihat lebih
dalam ternyata gas tabung 3 kg itu, jalan yang diambil pemerintah untuk
meringankan warga tak mampu. Karena jika gas itu dijual dengan harga pasar,
menjadi beban buat mereka. Sebaliknya,
jika semuanya dijual dengan harga subsidi, pasti BUMN seperti Pertamina akan
rugi. Jika sebuah perusahaan terus-terusan rugi dalam operasi bisnisnya,
bangkrut atau mati itu tinggal menghitung waktu. Jika sudah mati, kerugiannya akan berlipat.
Tidak hanya Negara yang semakin terbebani, masyarakat pun tak kalah
menderitanya.
Jadi, jika mencintai Negara ini belum bisa kita
lakukan seperti para pejuang kita di masa lalu, atau kita ingin membela orang
miskin dan bersimpati kepada mereka tetapi kita tidak ingin orang lain melihat
dan hanya kita dan Tuhan saja tahu, cukup dengan tidak membeli gas tabung 3 kg.
Memang tidak seheroik para pejuang dan seheboh seleberitis mendatangi warga
pinggiran saat member bantuan. Tapi di situlah pembelaan yang sebenarnya.
Membela dalam kesenyapan yang nilai dan maknanya hanya DIA saja yang tahu dan
DIA pula yang akan memberinyabalasan. Wallaahua'lam. (end)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak