Ciputat, Jumat, 9/10/2009. Semenjak siang sebelum hari penggrebegan, intel-intel itu sudah nongkrong di warung di samping kos yang nyaman itu, menurut cerita tukang warung yang sempat diwasiatkan agar besok belanja yang banyak karena bakal banyak wartawan yang datang. Bahkan ada yang memaksan untuk ngekos di situ dan di lantai 2, katanya untuk keponakannya, padahal kamar-kamar itu sudah berpenghuni semua, tidak ada yang kosong. Aku sendiri baru melihatnya jumat pagi buta, sangat tumben ketika baru pulang ke kos sekitar jam 2 pagi melewati warung tersebut. Ku tatap wajah salah seorang yang nongkrong di warung itu, kebetulan yang berkumis, aku pun mengulum senyum dan sedikit membungkukkan badan demi kesopanan adab numpang lewat. Dia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya persis ketika aku menganggukkan kepala dan berucap permisi. Sebelumnya, saat keluar dari kos sekitar selepas isya, ketika aku melewati warung tersebut dan sedikit membungkukkan badan dan tangan lurus ke bawah berisyarat permisi tanpa kata berucap, orang-orang yang nongkrong di warung yang ternyata intel itu menampakkan sedikit tatapan tajam ke wajahku, sepertinya tatapan tanda tanya.Jumat pagi hingga menjelang shalat jumat, aku hanya sedang beraktifitas santai membantu pengeditan page setup dan mengatur halaman lembar-lembar skripsi seorang kawan yang sedang menyelesaikan tahap akhir refisi pasca sidang. Hari itu rencana skripsi akan diprint, digandakan, dan dijilid untuk kemudian diserahkan ke beberapa pihak kampus untuk bisa mengikuti wisuda ke-77 UIN Jakarta. Namun, menjelang detik-detik aktifitas ngeprint, aku pun selonjoran, karena menunggu penemuan satu foot note yang terlewatkan terketik dalam suatu lembar.
Badan sengaja kurebahkan dan mata terpejamkan, sambil pula menunggu adzan shalat jumat. Dalam posisi tidur-tiduran, sengaja ku ganjal daun pintu kamarku itu dengan salah satu kakiku agar bisa menikmati sepoinya angin. Beberapa menit kemudian, terdengar suara gaduh (seperti dinding jatuh). Kusikapi biasa saja, sambil menikmati sepoinya angin itu, "Ah, paling sedikit puingan tembok jatuh dari atas mushala, atau teman-teman kamar kos lain sedang gurau hingga gaduh". Kebetulan dinding di atas mushola itu sudah retak hingga disangga dengan sebatang besi. Tempat yang didaulat sebagai mushala itu berada di sisi ujung kos lantai 2. Sosok mushola itu tidak seperti di media-media yang tergambarkan seperti ruangan yang tertutup, berdaun pintu dan berjendela. Tempat yang didaulat mushola itu hanyalah seperti teras rumah biasa yang posisinya lebih tinggi dari lantai sekitar 10-20 cm, cukup untuk tiga sampai empat orang berjajar sebagai makmum ketika shalat.
Beberapa detik kemudian terdengar seperti suara puingan tembok yang lebih besar jatuh dan suara mulut orang-orang yang gaduh. Suara itu baru menggugah rasa penasaran saya untuk melongok ke luar dari pintu kamarku, khawatir benar kalau dinding di atas mushala itu runtuh, menghantam lantai dan jatuh menembus sampai ke lantai bawah. Namun ternyata tidak terbukti, waktu itu yang ku lihat pertama kali adalah satu sosok tubuh yang berompi biru tertuliskan 'polisi' berdiri di depan pintu kamar 15 yang terpojok itu, sambil mengarahkan laras panjang ke dalam kamar itu dan terdengar beberapa kali suara tembakan. Dan ada dua orang pula di samping dan belakang polisi yang berdiri depan pintu itu yang siap siaga dengan laras panjang dan pistol. Namun prasangkaku masih belum menyadarkan kesadaranku kalau itu penggrebegan teroris. Saat itu dalam hati hanya berujar, "kok, ada polisi...? ah, paling penggrebegan narkoba", membuatku tak beranjak dari posisiku. Seketika itu pula langsung terdengar teriakan "keluar...keluar... keluar semua, cepat...". Tak sempat ku aktifkan alam sadarku, langsung turun tangga dengan pakaian di badan, tak sempat menutup pintu dan membawa bekal, dan tanpa alas kaki pula.
Setelah turun, baru tersadar tidak membawa bekal apapun selain yang di badan. Dan sudah pasti dilarang kembali ke kamar dalam kondisi seperti itu. Yang terngiang bagaimana nasib laptop yang berisi editan skripsi itu, kasihan kawanku kalau laptop itu tak lagi utuh, sedangkan ia tinggal selangkah lagi melangkah ke wisuda dengan tekad setelah prosesi wisuda terkaitkan kampus tak lagi dipikirkan selain menunggu ijazah, tak lagi menyentuh isi skripsi. Ditambah lagi kekhawatiran nasib modem yang kurental dari tukang rental yang akan aku gunakan untuk uji coba teleconfence untuk kepentingan acara almamater pondokku minggu depan, padahal jatah rentalku hanya untuk satu hari.
Shalat jumat pun tak lagi terpikirkan, yang ada di kepala hanyalah bagaimana nasib seisi kamarku yang tepat di sisi anak-anak tangga itu. Rasa kepanikan dan tanda tanya yang beragam itu juga dimakmumi oleh beberapa teman-teman kos yang saat penyegrapan berada dalam kamar-kamar kos itu. Sesekali memandang ke arah kos itu dan mencoba untuk melihat kejadian lebih nyata, tapi selalu diusir Tim Densus untuk menjauh 100 meter, bahkan dihardik "ngapain ngintip-ngintip". Akhirnya teman-teman hanya bisa bergrombol duduk-duduk dan mencoba mengurai beberapa tanda tanya yang ada kepala dengan berbagai prediksi berdasar cerita dari Bude' dan beberapa teman-teman kos lainnya, tak lupa dibumbuhi canda dan gurau untuk mengurai kepanikan dan ketegangan. Sampai di sini, saya hanya memikirkan laptop dan modem itu, semoga bisa diizinkan masuk ke kamar sebentar, hanya sekedar mengambil barang-barang yang penting itu. Karena sudah diprediksi kalau keadaan seperti ini pasti memakan waktu beberapa hari sementara ada beberapa aktifitas yang tak bisa tertunda untuk ditunaikan minggu besoknya dan peralatannya tertinggal di dalam kamar lantai 2 samping anak-anak tangga itu.
Akhirnya cuma bisa numpang berteduh di kosan seorang teman dan sesekali bolak-balik ke kos sekedar mencari kabar apakah bisa dizinkan masuk untuk beberapa menit saja. Hampir selama dua hari itu, tiga kali sehari ku tengok itu kos berharap ada kabar pasti kapan diizinkan masuk kamar, berharap laptop tidak disita aparat, ataupun boleh lah disita tapi berharap aparat memperlakukannya dengan sopan tanpa harus mencederainya. Minggu pagi menjelang siang, hp yang kupegang hasil pinjaman dari temanku mendapat kabar kalau hari itu juga bisa masuk kamar dan mengambil barang-barang. Langsung aku beranjak lari menuju kosan. Akhirnya berkat dikoordinasi oleh salah seorang warga di situ, dia bisa meloby ke aparat untuk memberi izin kepada para mahasiswa yang perlu kasihani ini untuk diberi waktu sesaat, mengambil barang-barang yang dianggap penting.
Terima kasih wahai warga atas kesosialannnya. Sisanya biarkan olah TKP itu kelar, kalau bisa gak pake lama. Pasca kejadian ini, sebagian penghuni ada yang berniat bertransmigrasi, dan sebagian lagi tidak angkat kaki dari kos itu. Kosan yang nyaman itu telah terusik oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, sadarlah teroris. Benarkah dua sosok teroris itu? Haruskah pindah kos? [] Ciputat, must-x, 12/10/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak