Dia tak akan berkata sebenarnya meski yang dia katakan adalah benar dan senyatanya nyata. Indah nian tarian bibirnya, sungguh lentur, tapi hanya sebagai dalih untuk menjurangkan diri dari yang dianggap menakutkan 'yang tak benar' dan sekedar melipstik bibir-bibir lainnya. Tak disadarinya bahwa yang 'benar' itu lebih menakutkan ketika lipstik itu sangat tebal namun begitu transparan.
Pun yang tak disadarinya mata bibir-bibir selainnya sanggup membaca dan mengukur kadar rasa nano-nano bibirnya, tanpa harus butuh berlama-lama mencicipinya.
Bibir itu terlalu terbiasa untuk setia berkisah, menjelajah seluruh kisah, 1001 malam masih memungkinkan lebih. Bibir itu begitu merekah saat terasa melenakan lumatannya. Namun ia masih belum tersadari oleh dirinya, jika lumatan-lumatan itu terlalu sengaja untuk siap terlena hanya untuk sebuah rasa puas dan mekar tawanya, atau sekedar senyuman hati bila dirasa tak cukup sempurna hanya wujud jasad sekuntum senyum di bibir itu. Sebuah perhitungan nyata pergerakan bibir-bibir lain memberi rasa berbunga-bunga pada bibir itu, ya sekedar mencapai batas titik minimum hitung-hitung berbaik adalah berpahala.
Sang bibir itu tambah tahun tambah saja semaunya meluncur dengan kisah-kisahnya, kisah yang benar namun bukan nyata sebenarnya. Dengan beragam jurus silat lidahnya, ia menambah tantangan arus kebenaran nyata di depan mata dan pandangan logika, demi sebuah cita yang tak lagi sebenarnya cita. Ia tak lagi sungkan untuk menyemburkan lumpuran ucap dan hanya semakin membumbungkan asap yang tak sedap.
"Kelahiran kejadian pada suatu tanggal yang hampir berumur dua tahun itu adalah positif semburan muntah alam, tidak ada sedikitpun campuran adonan ulah makhluk yang berbibir dan berulah itu."
Tanpa menafikan sisi sisa kebenaran yang sebenarnya milik sang bibir itu, lipstik ini menambah deretan derita sariawan bibir-bibir selainnya yang sudah lama terkulum dalam ruang tunggu, terendam air liur yang tertahankan. Derasnya air mata tak lagi biasa, semakin tenggelam bersama bekunya adonan yang menelan bumi-bumi mereka, menambah prestasi populitas barisan jelata. Wajah-wajah sendu itu sudah lelah memelas, usia tak lagi berumur di tengah lumpuran yang semakin bertambah umur. Mereka hanya semakin tenggelam di alam bawah sandal orang-orang yang menumpang kebenaran dalam ruang kosong di antara dua katup bibir itu. Bibir-bibir selainnya hanya sanggup berlagu lirih dengan ketukan putus-putus asa yang semakin memelan dan tertelan.
Derita bahagia tak lagi pembeda
Derita dalam bahagia
Bahagia dalam derita
Semua sama tak lagi beda
Tetap derita yang dirasa
Derita kini jadi objek wisata
Di Porong
Jejak tsunami Aceh pula menjajakan data derita
Derita sumber bahagia, tetap derita yang dirasa
Rasa bahagia hanya milik penguasa
Lagak pemurah memborong CD data derita rakyat jelata
Rasa bahagia rakyat jelata hanya mampu ngelus dada
Adalah bahagia jarang dibelai
Adalaha bahagia mati rasa
Adalah derita si jelata
Begitu asyik-masyuknya bibir itu tak habisnya membungkus kebenaran semu, tak mau dengan mudah menyadari berapa hektar tambak-tambak keringat yang terpanggang terik matahari yang harus ia jernihkan dari asin menjadi manis. Ia tak lagi peduli arti kemanusiaan demi untuk memutihkan kehitamannya. Zaman berubah, perilaku tak berubah. Orang berubah, tingkah laku tak berubah. Wajah berubah kok malah menjadi lebih susah.[1] Dalam lamunan penuh peluh, bibir-bibir selainnya hanya kembali bisa mengeluh dan melepuh.
Hitam dan putih....
Manusia penuh apologi
Yang mana hitam yang mana putih...
Sikap pun tak lagi menjamin
Yang mana hitam yang mana putih...
Manusia sungguh cerdas bermisteri
Yang mana hitam yang mana putih...
Tak lagi terdeteksi
Yang mana hitam yang mana putih...
Beribu-ribu manusia di atas bumi yang berlumpur itu telah menjadi korban oleh pengeboran nafsu yang berakal. Dan kembali menjadi korban oleh olahan bibir berbunga bangkai yang menganulir pelanggaran akal manusia, lantas lebih mengkambinghitamkan alam dengan berdalih akhirnya datang juga tingkah tak bersahabat alam pada manusia. Bibir itu seolah melupa tanya akan tingkah laku bor nafsu itu.
Erangan jelata kembali tak terbaca oleh bibir itu, entah disengaja, inilah kisah. Dosa bukan lagi soal penting bagi bibir itu yang sudah lama bergelut akrab dengan dosa, besar atau kecil tak lagi menjadi titik perhitungan. Tapi bukan lagi persoalan dosa, dosa tetap dosa dan berakibat siksa. Pengakuan dosa bibir itu tak lagi penting bagi jelata yang terlalu setia dihujani siksa dari dosa yang bukan miliknya. Jangan semena tularkan buah dosa itu menjadi milik bersama bila kepentingan diri adalah biang momok segala dosa itu. Keinginan Jelata yang berbibir-bibir tak lagi teranggap itu adalah kebenaran senyatanya, walau sebuah kalau memang hanya itu satu-satunya nyata. Tak sepatutnya lagi pengaku dosa berkata tak sebenarnya meski yang dia katakan adalah benar dan nyata.
Inilah kisah, kebenaran dan kesalahan dengan semenanya dibuat acak kadut oleh bibir itu. Yang dia kisahkan memang nyata namun tak senyatanya. Jangan terlalu percaya ketika dia mengunyah kata dengan taring gigi dan lisannya karena jangan-jangan adalah bagian dari kisah yang mengandung hanya kebenaran dalam kisah itu, tak laku di nyata. Wallahu a'lam.
Ciputat, 8 Maret 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Matur nuwun, sampun mlebet teng saung gue
monggo telusuri dan ninggalin jejak